Hafidz Yang Merasa Sempit

Dalam sambutan penutupan pelatihan Spirituality in Work for Managers angkatan ke-11 dan 12 yang diselenggarakan oleh PT. Telkom Indonesia bekerjasama dengan Radix Training & Consulting pada tanggal 28 Juni 2013, KH. Yusuf Muhammad (Senior Manager Spiritual Capital Management PT. Telkom) berkata, “Saya punya komunitas huffazh (para penghapal Al-Qur’an). Mereka biasa menghatamkan Al-Qur’an dua hari sekali, maka dalam bulan Ramadhan mereka mengkhatamkan Al-Qur’an bisa 15 kali. Namun mereka tetap mengeluh. Mereka tetap saja resah meski banyak membaca Al-Qur’an, tidak dapat merasakan ketentraman batin, tetap saja tidak dapat merasakan komunikasi dengan Allah saat membaca Al-Qur’an”.

Mereka bertanya kepada KH. Yusuf Muhammad tentang hal tersebut dan beliau menjawab, “Karena kalian tidak tersambung kepada Allah Yang sedang kalian baca kalimat-Nya.”

Sejak saat itu mereka pun aktif belajar dzikir. Mereka terus berlatih menghubungkan qalbu dengan Dia Yang Maha Kuasa. Apa yang terjadi setelah mereka mendalami dzikir? Setiap kali membaca lafazh “Allah”, mereka hampir tidak bisa meneruskan bacaan karena isak tangis. Qalbu mereka bergetar ketika membaca lafazh Allah. Iman sudah masuk ke dalam qalbu mereka. Subhanallah. Inilah yang dimaksud dalam Al-Qur’an.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ketika disebut nama Allah bergetarlah qalbu mereka, dan ketika dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah keimanan mereka, dan hanya kepada Tuhan lah mereka bertawakkal.” (QS. al-Anfal: 2).

Semoga dengan bekal connectedness, Allah memberikan kenikmatan beribadah kepada kita. Baik ibadah mahdhah (ritual) maupun ibadah ghairu mahdhah (kultural seperti kerja). Amin. (ltf)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...