Haji Abdul Manaf: Tanbih Alat Ukur Menilai Diri Pribadi Bukan Orang Lain

Tasikmalaya – Wakil talqin dari Malaysia Haji Abdul Manaf bin Abidalah hari ini, Kamis (10/10) bertugas menyampaikan khidmat ilmiah pada Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani (qs) di Pontren Suryalaya.

Berikut ringkasannya,


Surat Al-Baqarah Ayat 152;

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Beruntunglah orang-orang yang mengingat Allah (swt) karena dia akan diingat-Nya. Allah (swt) mengingat hambanya tidak kosong namun penuh dengan isi, rahmat dan ampunannya.

Surat Al-Ahzab Ayat 35;

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا…

…laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Jika kita kita diampuni oleh Yang Maha Pengampun maka Dia akan cinta kepada kita. Itulah pentingnya dzikrullah yang telah ditanamkan Pangersa Abah. Ada dua dzikir yang diberikan beliau, dzikir jahri dan khafiy.

Untuk belajar dzikir perlu mengikuti tuntunan dari Allah (swt). Siapa panduan kita dalam berdzikir? Rasulullah Muhammad (saw).

Rasulullah (saw) berdzikir setiap saat selama hidup. Kita renungkan, seorang nabi yang maksum, dijamin surga tak pernah lalai walaupun sesaat menghubungkan diri dengan Allah (swt). Sesuai dengan Surat An-Nisa 103;

…فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring…

Maknanya dzikir sebagai suatu ibadah yang diperintahkan sepanjang masa, tidak terikat waktu dan tempat, dalam keadaan apapun selama masih berada di bumi Allah (swt). Dzikir adalah pekerjaan yang agung.

Mursyid kita telah menunjukkan tujuan berdzikir,

إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ

Tuhanku, Engkaulah yang kumaksud.

Bagaimana menjadi orang yang dapat merasakan kebersamaan dengan Allah (swt)? Yang merasa bukanlah kulit atau badan. Melainkan ruhani, adalah qalbu. Maka menjadi penting membersihkan qalbu dengan dzikrullah.

Dalam qalbu ada bintik-bintik hitam yang perlu dibersihkan dengan Lā ilāha illā Allāh.

Salah satu penyakit adalah merasa lebih dari yang lain. Ini juga penyakit yang menghinggapi Iblis. “Aku lebih baik darinya.” Itulah kata-kata yang menjatuhkan iblis.

Jika kita yakin dan ikhlas mengamalkan apa yang diajarkan mursyid akan tercermin dalam kepribadian kita. Tidak akan lagi keluar prilaku dan ucapan yang tidak baik karena selalu merasa ditatap Allah (swt).

Beruntung kita selalu diingatkan dalam tanbih. Tanbih dan untaian mutiara adalah alat ukur untuk menilai diri kita pribadi bukan orang lain. Abah mengajarkan kepada kita jangan merasa pandai namun pandai merasa.

Suburkan bibit iman yang telah ditanam mursyid untuk menjadi seorang ikhlas. Inilah yang harus kita jaga saat berdiri, duduk dan berbaring. Insya Allah qalbu akan menjadi tenang. Maka bersyukurlah…

Haji Abdul Manaf bin Abidalah, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya domisili di Tawau, Sabah, Malaysia. 

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...