Hati-hati! Karamah Palsu

Hasrat untuk diberi hal-hal yang bersifat di luar kebiasaan (khawariqul ‘adah) seperti bisa melipat bumi sehingga bisa bepergian ke mana pun dengan cepat atau pun tersingkapnya tabir (mukasyafah) seperti mengetahui hal-hal yang bersifat gaib perlu diwaspadai. Apalagi jika keinginan itu merupakan kepentingan pribadi dan hasrat duniawi.

Imam Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad dalam kitab An Nafais Al ‘Ulwiyyah Fil Masa’il As Shufiyyah justru amat khawatir jika seorang pengamal tarekat itu tekun dan bersungguh-sungguh ibadah demi mencari kelebihan seperti tersebut di atas.

Karena menurut penyusun Ratib Al Haddad tersebut, hal yang bersifat khawariqul ‘adah dan mukasyafah itu tergolong karamah yang tidak hakiki alias palsu.

Lain ceritanya jika ia tekun dan bersungguh-sungguh ibadah, dzikir untuk memperkuat keimanan, senang berorientasi akhirat dan bisa mempraktekkan zuhud di dunia secara tepat. Karena yang demikian itu tergolong hal yang terpuji (mahmudah).

Karena menurut Habib Abdullah, bisa jadi kalau pun dia mendapatkan hal-hal yang khawariqul ‘adah (luar biasa) atau pun mukasyafah, itu adalah istidraj. Bukan karamah seperti yang dikiranya.

Orang seperti ini sedang tertipu. Sebenarnya yang ia perolah adalah ihanah (bentuk penghinaan) karena telah melenceng dari niat yang benar dan tujuan ibadah yang sesungguhnya.

Karamah, menurut Habib Abdullah tidak akan hadir kecuali pada orang yang istiqamah. Dan tidak akan nampak kecuali pada mereka yang tidak menyukai dan menginginkan karamah.

Justru karamah yang sebenarnya itu tidak nampak bagi orang yang berhasrat ingin menunjukkannya. Jadi di sinilah pentingnya mengelola qalbu dan penuh kewaspadaan. Selalu teliti dalam segala hal, karena bisa jadi itu adalah istidraj dan ihanah.

Istidraj merupakan ujian yang tersembunyi di balik anugerah Allah. Dalam Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam karya Ibnu Ajibah, Syekh Zarruq berkata takutlah engkau wahai murid akan karunia Allah padamu, berupa kesehatan, waktu luang dan kelapangan, luasnya rezeki, derasnya anugerah baik material dan spiritual sedangkan kamu selalu melanggar dan lalai kepada-Nya.

وَالَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.

Di sinilah pentingnya istiqamah dan doa pembuka sebelum berdzikir agar yang dituju hanyalah Allah.

الهي أنت مقصودي ورضاك مطلوبي

“Tuhanku, Engkau lah maksud dan tujuanku, ridha-Mu lah yang kucari”.

Rekomendasi
Komentar
Loading...