IAILM Suryalaya Menuju Era Kampus 4.0. dan Bebas Radikalisme

Tasikmalaya – IAILM Suryalaya sebagai perguruan tinggi terbaik se-Jawa Barat dan Banten tiga kali berturut turut memiliki peran penting dalam merespon isu nasional dan global. IAILM selalu berupaya mencari solusi yang membawa kemaslahatan bagi umat manusia.

Sikap ini dibuktikan dengan kegiatan seminar sehari dan pembinaan 60 dosen IAILM Suryalaya pada Sabtu (20/7). Beberapa tokoh nasional yang menjadi pembicara adalah Dr. H. Asep Salahudin staf BPIP RI dan H.M. Adib Abdushomad, M.Ed., Ph.D. (Kepala Seksi Pengembangan Profesi DIKTIS Kementrian Agama RI).

Seminar dimoderatori oleh Try Riduwan S, M.A. dilanjutkan dengan pembinaan dosen oleh Dr. H. Suhrowardi, M.Ag dan Oyib Sulaeman, M.SI.

Rektor IAILM Suryalaya H. Iwan R. Prawiranata, M.A.Ph.D. dalam sambutannya mengatakan kegiatan seminar dilatarbelakangi peran dosen dan scholars menghadapi Revolusi Industri 4.0.  Kita ketahui bersama RI 4.0 telah dicanangkan pemerintah sebagai salah satu program untuk meningkatkan sumber daya manusia Indonesia agar bisa bersaing dalam globalisasi.

Insan akademik harus mampu beradaptasi dan melihat oppotunities untuk berkontribusi secara kreatif, inovatif dan produktif dalam persaingan di era global. Rektor juga menghimbau agar kampus sebagai lembaga pendidikan tidak terkontaminasi oleh radikalisme.

Kampus harus menjadi garda terdepan menangkal radikalisme yang tersebar massif di media sosial melalui pembinaan dosen dan mahasiswa dengan menghayati nilai-nilai Tanbih TQN Pondok Pesantren Suryalaya.

Seminar menjadi lebih menarik ketika moderator melontarkan opini revolusi industri 4.0 tidak hanya membawa dampak positif tetapi juga dampak negatif terhadap kehidupan manusia. Secara sosial membawa manusia pada sikap individualisme.

Modetator mengatakan sikap ini cenderung mencari informasi yang menguntungkan dan cocok dengan kepentingan individu mereka. Artinya membuat kelompok-kelompok kepentingan baru akibat dari invidualisme. Pada akhirnya, mereka mudah untuk dimasuki oleh kepentingan kelompok atau oknum yang tidak bertanggung jawab membawa dalam sikap radikalisme.

Dr. Adib menjelaskan revolusi industri 4.0 merupakan gerakan inovasi industri baru dari revolusi industri 3.0 yang berorientasi pada masalah teknologi yang humanis menjadi teknologi digital.

Era 4.0 lebih mengedepankan bagaimana manusia lebih trampil dan kreatif menggunakan teknologi yang serba digital dalam kehidupan sehari hari.

Dr. Adib mengaitkan pendapat Renald Kasali bahwa Era Distruptif dihadapi negara-negara yang stangnan menggunakan metode atau cara lama. Artinya mereka tidak siap mengahadapi isu global yang terus berubah. Permasalahan tersebut sangat erat kaitannya dengan kondisi dan realitas bangsa Indonesia hari ini.

Hal ini perlu diantisipasi oleh umat Islam. Tantangan era 4.0. juga sangat erat kaitannya dengan krisis spiritual karena manusia cenderung sibuk dengan arena digital sehingga aspek spiritualime terbaikan.

Peran IAILM sangat dibutuhkan masyarakat luas melalui program-program penguatan spiritual yang berdampak pada karakter, moral dan budaya masyarakat yang lebih baik.

Dr. Asep menyampaikan manusia seringkali terjebak radikalisme karena terlalu serius memikirkan suatu hal yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan arif dan bijaksana.

Isu-isu politik identitas menjadi makanan ringan kelompok yang berkepentingan. Perbedaan khilafiyah antar umat islam memberikan dampak yang sangat besar terhadap paham radikal.

Manusia tidak hanya mahluk berpikir, bersosial dan berpolik tapi juga makhluk yang bermain.

Manusia cenderung bermain dan terjebak dalam arena kehidupan demi menguatkan identitas dan kepentingannya.

Dr. Asep menggarisbawahi, nilai-nilai Tanbih TQN Suryalaya memberikan kontribusi yang besar untuk menangkal radikalisme di masyarakat, salah satu isinya adalah “harus menyayangi orang yang membeci kepadamu”.

Bagaimana menanggulangi pemahaman khilafiyah yang berdampak radikalisme di masyarakat?

Khilafiyah itu rahmat bagi semua ketika kita bisa mengelola perbedaan melalui dialog dan kesepatan yang respektif dan konstruktif bukan sinisme. (Rid/Idn)

Press release Seminar “IAILM Suryalaya Menuju Era 4.0. dan Kampus Bebas Radikalisme.”

Rekomendasi
Komentar
Loading...