Ibadah Qurban: Pengabdian dan Ketulusan Menjalankan Tugas (1/6)

Nabi Ibrahim AS bukan orang Arab asli. Ia berasal dari desa al-Ur di Persia, desa di tepi delta Mesopotamia yang diapit Sungai Eufrat dan Sungai Tigris. Karena dakwahnya tidak dipedulikan oleh penduduk negerinya, ia pergi ke Mesir.

Mesir waktu itu negeri yang amat makmur sehingga dikunjungi banyak orang untuk mencari penghidupan. Banyak juga budak-budak yang dijual ke sana. Salah satu budak itu adalah Siti Hajar dari Habsyah (Ethiopia sekarang) yang dibeli oleh seorang bangsawan Mesir lalu dihadiahkan kepada Siti Sarah, isteri Nabi Ibrahim AS.

Kemudian mereka bertiga (Ibrahim, Siti Sarah dan budaknya, Siti Hajar) pergi ke Kana`an (wilayah Palestina kuno). Di Kana`an, suatu saat, Nabi Ibrahim berdoa memelas kepada Allah SWT memohon untuk diberikan seorang putera, karena usianya sudah sangat lanjut.

Doanya juga terdengar oleh sang isteri, Siti Sarah. Setelah menimbang-nimbang akhirnya Siti Sarah memerdekakan budaknya, Siti Hajar, dan melamarnya untuk menjadi isteri kedua Nabi Ibrahim AS. Dari perkawinannya dengan Siti Hajar, Nabi Ibrahim AS mendapatkan seorang putera yang diberi nama Ismail.

Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk membawa isterinya yang kedua bersama putera tunggalnya ke Lembah Bakka. Setelah bertanya-tanya kepada banyak orang tahulah ia kalau Lembah Bakka adalah sebuah lembah gersang yang dikelilingi gunung-gunung batu di tengah gurun pasir Hijaz yang amat luas.

Meyakini bahwa setiap perintah Tuhan pasti membawa kebaikan, mereka bertiga pergi meninggalkan Kana`an, berjalan menyusuri gurun pasir ke arah Selatan. Bakka artinya tangisan, atau duka cita. Banyak orang yang menuju ke sana kalau tersesat dan kehabisan bekal akan mati memilukan.

Bakka, yang kemudian menjadi Makkah, adalah lembah tangisan. Hingga sekarang pun kota yang paling banyak orang menangis di dalamnya adalah kota Makkah.

Setelah ditinggal oleh Nabi Ibrahim AS yang kembali ke Kana`an, Siti Hajar dan Ismail bertahan hidup di Makkah dengan bantuan air dari sumur Zamzam. Dari seluruh semenanjung Arab, wilayah yang agak subur dan sejak dahulu kala dihuni orang adalah Yaman. Aslinya orang Arab adalah orang-orang yang tinggal di Yaman itu. Mereka sebenarnya bangsa pengembara yang sangat ulung. Termasuk kebanyakan keturunan Arab di Indonesia adalah anak cucu orang-orang Yaman.

Setelah mengetahui bahwa lembah Makkah dapat dijadikan tempat hunian, karena sudah ada mata air Zamzam, banyak orang Yaman ikut tinggal di Makkah, dan mengawinkan anak-anak perempuan mereka dengan Nabi Ismail AS.

Nabi Ismail AS adalah keturunan campuran (blasteran) dari seorang ayah Persia (bertubuh tinggi dan putih) dan seorang ibu yang negro Ethiopia (bertubuh tinggi, hitam, dan berambut keriting).

Setelah kawin dengan anak-anak orang Arab Yaman, juga dengan keturunan orang-orang Phoenicia yang ikut bergabung di Makkah belakangan, maka kelak lahirlah darinya keturunan-keturunan baru yang campur baur multi-etnis. Itulah bangsa Quraisy. Bangsa Quraisy adalah bangsa campuran, multi-etnis dan multi-budaya.

Dalam antropologi Arab mereka disebut al-`Arab al-musta`ribah (Arab yang ter-arab-kan) sebagai pembeda dari al-`Arab al-`âribah (Arab yang meng-arab-kan).

Kelak dari bangsa campuran inilah terlahir Nabi Muhammad SAW.

Ditulis oleh KH. Wahfiudin Sakam. Mudir Aam JATMAN, Wakil Ketua Komisi Pendidikan & Kaderisasi MUI Pusat, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya.

 

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...