Ibadah Qurban: Pengabdian dan Ketulusan Menjalankan Tugas (3/6)

Bulan ini disebut Dzûlhijjah karena bulan ini dzû (memilki, ada padanya) saat untuk melaksanaan hijjah (haji). Dengan berhaji orang menyatakan diri kembali kepada Tuhannya dengan meninggalkan segala daya tarik duniawi yang selalu merangsang kepada keserakahan serta keburukan-keburukan yang terkandung dalam kata baghyan. Dengan berhaji pula orang akan berjumpa dengan orang-orang lain dari segala bangsa dan latar belakang etnis-budaya.

Berhaji adalah latihan menyisihkan `ashabiyah dan membangkitkan kesadaran tentang ummatan wâhidatan. Berhaji juga latihan untuk mengendalikan diri dari baghyan.

Allah SWT mencipta manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, saling akrab dan mencintai. Toh yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah manusia yang paling taqwa.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami cipta kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. <al-Hujurat/ 49:13>

Nilai tertinggi dalam hubungan manusia dengan Allah adalah TAQWA. Nilai tertinggi dalam hubungan kemanusiaan adalah ADIL.

Menariknya, dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa KEADILAN sangat dekat dengan KETAQWAAN. Seseorang tidak akan dianggap taqwa oleh Allah SWT, betapapun banyak dan baik ibadahnya, bila tidak mau menegakkan keadilan, tidak memberi apresiasi pada keadilan, tidak berbuat adil.

Orang yang tidak adil bukan saja dibenci oleh Allah SWT tapi dibenci juga oleh sesama manusia, termasuk sesama teman-temannya yang tidak adil. Barangkali iblis pun ikut membencinya karena tidak adil lalu merampas bagian iblis.
Lihatlah para koruptor yang curang, dibenci pula oleh sesama temannya yang korup, lalu mereka saling menjerumuskan di depan pengadilan.

Dari pembahasan di atas perlu kita cermati dua tema pokoknya yaitu:
1. `Ashabiyah, semangat fanatisme golongan yang merusak persatuan dan keadilan, sehingga tidak mampu menghargai keragaman etnis dan budaya, tak mampu lagi menghargai kebersamaan.

2. Baghyan, sikap-sikap kotor berupa ‘keserakahan, kecurangan, kelicikan, kemurkaan, kekejian, kekotoran, penindasan, permusuhan, kesundalan, tirani’.
Keseluruhan perjalanan sejarah hidup Nabi Ibrahim AS, khususnya saat akan mengurbankan puteranya Nabi Ismail AS, memberikan gambaran kepada kita betapa untuk mencapai keluhuran martabat di hadapan Allah SWT kita harus berani menyembelih sifat-sifat kebinatangan pada diri kita, khususnya sifat `ashabiyah dan baghyan.

Ditulis oleh KH. Wahfiudin Sakam. Mudir Aam JATMAN, Wakil Ketua Komisi Pendidikan & Kaderisasi MUI Pusat, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...