Ibadah Qurban: Pengabdian dan Ketulusan Menjalankan Tugas (4/6)

Qurban

Ibadah qurban mengandung pesan simbolik tentang ketulusan, ketaatan, ketundukkan, kepasrahan, sekaligus keyakinan. Bukan daging dan darah binatang yang dikurbankan yang akan sampai kepada Allah, tetapi ketaqwaan kita melaksanakannya yang diperhatikan oleh Allah.

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ …

Daging-daging itu, juga darahnya, sekali-kali tidak akan mencapai Allah, tetapi ketaqwaan kamulah yang akan mencapaiNya… <al-Hajj/ 22:37>

Pemimpin besar kita Nabi Muhammad SAW banyak memberi contoh bagaimana membangun ketaqwaan dengan mengurbankan hal-hal yang paling akrab dengan diri kita, yang paling kita ingini, padahal sebenarnya paling merusak kehidupan kita, sehingga tidak layak terus kita pertahankan ada pada diri kita.

Contoh-contoh itu terlihat antara lain pada:

1. Peristiwa Thaif
Saat Nabi Muhammad SAW mendatangi kota Thaif untuk berdakwah, para provokator sudah tiba lebih dulu di sana. Mereka menghasut orang untuk menghalau Nabi SAW. Sebagai manusia biasa Nabi SAW harus berlari menghindari lemparan batu, kayu, dan kotoran binatang.

Setelah lolos dari pengejaran beliau duduk bersandar pada sebatang pohon dengan napas yang masih tersengal-sengal, pakaian yang robek-robek, serta luka-luka yang menganga meneteskan darah.

Belum cukup beristirahat datanglah malaikat Jibril padanya yang berkata: “Wahai Rasulullah, kalau engkau setujui, akan kuterbalikkan gunung itu ke atas kota Thaif agar hancur semua orang yang menistamu”.

Kalau kita yang mendapatkan tawaran dalam posisi seperti itu apa jawab kita?

Namun Rasulullah SAW segera melompat berdiri dan berkata: “Tidak, hai Jibril”.

Beliaupun terheran-heran mengapa malaikat dapat menjadi semarah itu. Nampaknya bukan lagi malaikat yang harus diajak bicara, tapi atasannya malaikat. Beliau pun berdoa: “Ya Allah, berikanlah hidayah kepada kaumku ini, sesungguhnya mereka jadi begitu karena ketidaktahuan”.

Beliau justeru mendoakan orang yang menzhaliminya. Beliau berhasil mengorbankan baghyan (‘kemurkaan, kekejian, permusuhan’) yang ada pada diri beliau untuk menjaga keutuhan kemanuisaan.

2. Mengatasi fanatisme kesukuan
Akibat suatu banjir besar Ka`bah pun rusak. Setelah orang-orang Makkah memperbaikinya masih timbul satu masalah, siapa yang akan meletakkan kembali hajrul aswad (batu hitam) yang dianggap mulia ke tempatnya semula?

Tiap-tiap suku merasa merekalah yang paling mulia, sehingga paling berhak untuk membawa kembali hajarul aswad ke tempatnya di Ka`bah. Pertentangan menajam, nyaris terjadi perang suku di Makkah.

Seseorang berinisiatif meredakan ketegangan dengan menyarankan: “Orang yang paling rajin beribadah di Ka`bah adalah yang paling berhak melaksanakan tugas mulia ini. Tunggu saja besok pagi-pagi benar, siapa orang yang di saat orang lain masih terlelap dalam tidur ia sudah datang datang beribadah di Ka`bah”.

Esok paginya Muhammad SAW adalah orang yang pertama datang ke Ka`bah untuk beribadah. Orang banyak menaruh harapan kepada pemuda yang terkenal bersih akhlaqnya ini untuk menyelesaikan problem mereka. Dan harapan mereka benar. Muhammad SAW melipat sorbannya dan menghamparkannya di tanah. Kemudian beliau mengambil hajarul aswad dan meletakkannya di tengah sorban, lalu memanggil masing-masing ketua suku untuk menggotong hajarul aswad dengan menggenggam tepian sorban ke dekat Ka`bah. Lalu beliau sendiri meletakkan hajarul aswad di dinding Ka`bah.

Kelihatannya sepele memang. Tapi menutur budaya zaman itu apa yang beliau lakukan adalah sesuatu yang sangat fenomenal.

Beliau mencegah perang saudara dengan mengorbankan `ashabiyah. Dan itu beliau lakukan di tengah masyarakat yang semangat kesukuannya sangat kental. Beliau telah membuktikan bahwa mengedepankan akhlaq mulia dan keadilan lebih baik daripada fanatisme golongan.

3. Pemimpin yang terpilih dari kalangan minoritas
Rasulullah Muhammad SAW hijrah dari kota Makkah ke kota Yatsrib. Disebut Yatsrib karena dahulunya wilayah itu kosong tidak dihuni orang. Lalu datanglah 3 (tiga) suku besar Yahudi (Qaynuqa`, Nadhir, dan Qurayzhah) dari Yerusalem yang dipimpin oleh tokoh mereka bernama Yatsrib membangun pemukiman di sana. Jadi pendiri kota yang sekarang kita sebut Madinah itu sebenarnya adalah orang-orang Yahudi.

Kelak datang bergabung ke Yatsrib orang-orang Arab dari Yaman, utamanya 2 (dua) suku yaitu Bani `Aus dan Bani Khazraj. Mereka bukan jumlah yang besar, dan hidup dibawah kendali orang-orang Yahudi yang sudah tiba lebih dulu.

Lalu datang Rasulullah SAW bersama kelompok kecil muslim yang hijrah dari Makkah. Umat Islam di Yatsrib adalah kelompok yang paling minoritas dan paling lemah ekonominya. Tapi orang-orang Yatsrib yang sudah ada lebih dulu selalu hidup dalam permusuhan.

Yang Yahudi selalu bermusuhan dengan sesama Yahudi, begitu juga yang Arab.
Apalagi dengan orang-orang yang berbeda etnisnya. Semua itu disebabkan oleh semangat `ashabiyah (fanatisme kesukuan) yang tinggi.

Anehnya kelak justeru Muhammad SAW yang berasal dari kelompok yang paling minoritas yang terpilih menjadi pemimpin kota Yatsrib.

Reputasi Nabi Muhammad SAW mencegah perang saudara di Makkah saat meletakkan kembali hajarul aswad sudah terdengar sampai di Yatsrib. Mereka mengenali beliau sebagai orang yang ‘tidak terjebak `ashabiyah dan sangat menghargai kemanusiaan dan kedamaian’.

Sebagai orang yang ‘kemuliaan iman dan akhlaqnya lebih mampu mengalahkan baghyan (keserakahan, kecurangan, kelicikan, kemurkaan, kekejian, permusuhan, ketiranian)’. Maka wajarlah kalau beliau terpilih menjadi pemimpin Yatsrib meski berasal dari kelompok yang minoritas dan miskin harta. Bahkan kelak Yatsrib dikenal sebagai al-Madînah al-Munawwarah, artinya ‘kota yang tercahayai’, tercahayai oleh cahaya kenabian Muhammad SAW.

Ditulis oleh KH. Wahfiudin Sakam. Mudir Aam JATMAN, Wakil Ketua Komisi Pendidikan & Kaderisasi MUI Pusat, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...