Ibadah Qurban: Pengabdian dan Ketulusan Menjalankan Tugas (5/6)

4. Pengemis yang ‘buta’
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat yang menggantikan kepemimpinan beliau adalah Abu Bakar, yang juga mertua Nabi SAW karena Aisyah, puteri Abu Bakar, adalah isteri Nabi SAW.

Suatu saat Abu Bakar mendatangi Aisyah dan berkata: “Wahai puteriku, aku menggantikan Rasulullah SAW memimpin umat. Apa lagi kebiasaan baik beliau yang belum aku jalani?”. Aisyah menjawab: “Ayah sudah melakukan semuanya kecuali satu. Di pinggir jalan, dekat pasar sana, setiap pagi selalu ada seorang Yahudi yang buta yang menjadi pengemis. Rasulullah SAW selalu mendatangi pengemis itu, memberinya roti dan susu setiap pagi”.

Keesokan paginya Abu Bakar mencari pengemis yang dimaksud. Pengemis itu, tiap mendengar ada langkah orang mendekat, selalu memaki-maki Nabi Muhammad SAW dan menista ajaran Islam dengan kata-kata keji untuk menarik simpati orang-orang yang lewat agar memberinya derma.

Abu Bakar memberinya roti dan susu. Pengemis itu bertambah semangat menjelek-jelekkan Nabi Muhammad SAW sampai akhirnya ia berkata: “Siapa engkau, orang baik yang memberiku roti? Engkau bukan pengikut Muhammad jahat itu ‘kan?”.

Abu Bakar menjawab: “Aku adalah orang yang biasa memberimu makan setiap hari”. Pengemis menjawab: “Tidak. Engkau bukan orang yang biasanya. Orang yang biasa memberiku makan itu lembut tutur katanya. Ia selalu memberiku roti yang terbaik. Sedangkan yang kau berikan

yang terbaik. Orang itu juga, selain memberiku makan, selalu menyayangiku dengan membelai dan memijiti tanganku yang sudah renta ini. Coba berikan tanganmu, karena aku tahu betul bagaimana rasa tangannya.”Abu Bakar menyodorkan tangannya. Si Pengemis, sambil memegang-megang tangan Abu Bakar, berkata: “Bukan. Engkau bukan orang yang biasanya. Tangan orang itu kekar namun halus dengan kasih sayang. Siapa engkau sebenarnya?”.

Abu Bakar: “Aku teman dari orang itu. Aku menggantikannya hadir di sini mengurus makanmu”.

Pengemis: “Kemana orang itu?”.
Abu Bakar: “Dia telah wafat beberapa waktu lalu”.

Pengemis: “Siapa sebenarnya orang itu?”.
“Dialah Muhammad sang Nabi, utusan Tuhan yang penuh kasih sayang terhadap semua makhluk Allah…” bergetar suara Abu Bakar mengucapkannya. Orang itu terkejut. Terpental ke belakang menangis meraung-raung menyesali perbuatannya selama ini.

Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita, bagaimana agama tidak hanya dilaksanakan secara formal dan simbolik saja.

Inti keberagamaan adalah ketundukkan kepada Tuhan dengan dilandasi iman, dan keadilan terhadap sesama manusia denga dilandasi cinta kasih. Jangan biarkan `ashabiyah dan baghyan mengendalikan dirimu sehingga kamu mengorbankan keimanan dan kemanusiawian.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...