Ibnu Atha’illah Tentang Manusia Langit dan Manusia Bumi

Ada hal menarik dalam kitab al Hikam karangan Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari pada poin yang kedua:

إِرَادَتُــكَ الـتَّجْرِيْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِيَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَةِ الْخَفِـيـَّةِ

وَإِرَادَتُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ

Maknanya: “Kehendakmu untuk tajrid (mengisolir diri, fokus beribadah tanpa berusaha mencari dunia), padahal Allah masih menempatkanmu pada asbab (harus berusaha untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari), itu termasuk syahwat atau nafsu yang samar atau tersembunyi. Sebaliknya, kehendakmu untuk asbab (berusaha) padahal Allah telah menempatkan dirimu pada tajrid, maka demikian itu berarti suatu bentuk kemerosotan kelas”.

Hendaknya orang yang sudah mencapai makrifat kepada Allah mau menerima apapun yang ditentukan oleh Allah baik (tingkatan) usaha atau lainnya.

Kita mengenal ada “manusia langit” dan “manusia bumi”. Manusia langit adalah mereka yang maqam atau posisinya hanya fokus Ibadah tanpa berusaha mencari dunia, sebagai pertapa yang menjaga kesucian diri. Orang yang maqamnya seperti ini, tak akan memiliki passion atau kesenangan untuk terlibat dalam aktivitas sosial. Orang seperti ini oleh kalangan sufi disebut sebagai orang bermaqam tajrid.

Sebaliknya, manusia bumi berusaha untuk menghidupkan dirinya dengan kerja dan ikhtiar. Mereka hidup di tengah kehidupan sosial yang ramai, penuh gelora perjuangan. Ia tak cocok untuk kehidupan kontemplatif seperti yang dijalani oleh manusia pertama.

Ibnu ‘Atha’illah mempunyai istilah khusus untuk menerjemahkan manusia kedua ini, yaitu manusia-sebab (asbab), men/women of causes, yakni manusia yang tugasnya adalah berurusan dengan usaha yang melibatkan hukum sebab-akibat.

Masing-masing orang harus hidup sesuai maqamnya. Orang yang semestinya bekerja tetapi menjalani kehidupan kontemplatif atau tidak bekerja, ia sebetulnya tidak menjalani kehidupan yang mulia, ia hanya mengikuti hawa nafsunya yang tersembunyi.

Sementara ia yang di Maqam “manusia langit”, tapi ikut-ikutan terjun ke kehidupan asbab (berusaha dengan bekerja untuk mendapatkan rezki misalnya), maka ia mengalami kemerosotan kelas.

Suatu hari, ada seseorang yang hendak menjalani kehidupan meditatif, menjadi sufi, lalu mendatangi sufi besar Mesir asal Murcia, Spanyol, Abu al-Abbas al-Mursi. Sebelum ia mengatakan maksud kedatangan nya, Syaikh Mursi langsung mendahului pembicaraannya.

Beberapa hari sebelumnya kata Syekh Mursi, ada seorang ahli ilmu lahir (ilmu Syari’ah) datang kepadaku. Ia sudah sedikit mencicipi ilmu batin, lalu memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai guru ilmu lahir. Lalu aku berkata kepadanya “Bukan begitu caranya”. Tetaplah kamu dalam posisi yang telah diberikan Tuhan kepadamu. Pengalaman spiritual yang kamu miliki akan bisa kamu capai dengan jalan yang kamu tempuh sekarang ini.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kebijaksanaan Ibnu ‘Atha’illah ini? Setiap orang memiliki kelasnya masing-masing.

Sejatinya setiap orang tahu, dalam hatinya yang terdalam, ada di maqam mana dia. Kita tak boleh iri pada maqam orang lain. Setiap orang, seperti dikatakan Wali besar Syekh Abu al-Abbas al-Mursi, akan mencapai pengalaman kebahagiaan dan ketenangan batin melalui jalan dan maqam yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.

Dengan kata lain, kebahagiaan bisa kita peroleh jika kita hidup sesuai dengan “The Real Self“, hakikat diri kita masing-masing. You are going to be happy when your become Who You Are.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...