In Memoriam, KH. Abdul Rosyid Effendi, BA.

Oleh: Handri Ramadian

Tulisan ini diterbitkan dalam rangka mengenang jasa-jasa Kyai Haji Abdul Rosyid Effendi, BA. Beliau adalah seorang khadam Wali Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin (Pangersa Abah Anom) yang diangkat dan dikukuhkan menjadi wakil talqin pada 16 Oktober 1994.

Medan dakwah beliau terpusat di DKI Jakarta dan sekitarnya, namun beliau juga sering mengunjungi ikhwan-akhwat TQN Suryalaya di luar DKI Jakarta, bahkan sampai ke Birmingham, Inggris.

Kyai Haji Abdul Rosyid Effendi, BA., lahir di Cijeruk, Bogor 12 November 1939. Putra Haji Marzuki ini hidup dalam lingkungan keluarga yang religious. Uwaknya adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Cibalung di Kampung Lengis, Cijeruk-Bogor.

Sementara ayahnya merantau ke Jakarta, Effendi kecil dirawat oleh ibunya di Cijeruk. Pada usia lima tahun ibunda tercintanya wafat. Lalu ia dirawat oleh uwaknya di lingkungan pesantren. Selain mengenyam pendidikan umum di bangku SD dan SMP, Effendi kecil menimba ilmu agama pada uwaknya di Pesantren. Tidak heran, selama pendidikan dasar ini ia mampu menguasai berbagai disiplin ilmu Islam, seperti fiqih, tauhid, ilmu alat (nahwu & sharaf) dan lain-lain.

Selepas pendidikan SMP, ia merantau ke Jakarta, menemui keluarga ayahnya di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur. Lalu ia masuk SMA Wedatama Jakarta. Selama hidup di Jakarta, ia tidak mau berpangku tangan. Sambil sekolah ia berusaha keras mencari uang untuk keperluan hidupnya sehari-hari dengan menjadi agen koran dan majalah.

Tamat dari SMA, beliau mengajukan lamaran ke Badan Pusat Intelijen (BPI) yang iklan lowongan kerjanya ada di salah satu surat kabar yang ia jual. Keuntungan berpihak padanya, ia diterima bekerja di lingkungan Badan Pusat Intelijen pada tahun 1960. Karirnya diawali di bagian kendaraan. Tugas sehari-harinya mengurusi surat-surat kendaraan.

Paska peristiwa G 30 S/PKI pada tahun 1965 BPI bermertafosis dengan nama-nama yang berbeda. Pada 1968 menjadi Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) yang dirintis oleh Letjen Yoga Soegama dan memimpinnya sejak November 1968-Maret 1969. Letjen Yoga sempat meninggalkan jabatan Kepala Bakin sehubungan dengan tugas di PBB. Lalu pada 1974-1989 Letjen Yoga kembali menjabat Kepala BAKIN.

Sambil bekerja di BAKIN, Effendi muda mengembangkan bakat dakwahnya. Pamannya yang pengurus masjid di kawasan Prumpung turut andil dalam mengembangkan bakat Effendi. Pelan-pelan Effendi menjadi penceramah di majlis-majlis ta’lim. Demikian pula di kantor tempat ia mencari nafkah. Effendi aktif bergerak dalam bidang kerohaniahan sehingga ia dipercaya duduk dalam kepengurusan Pengajian BAKIN.

Melihat bakat dakwah yang besar dalam diri Effendi, salah satu pimpinan BAKIN, Hadi Saiful Anwar yang saat itu menjabat Direktur Keuangan mendukung penuh kegiatan Effendi. Beliau pula lah yang mempercayakan kegiatan dakwah masjid BAKIN untuk dipegang oleh Effendi. Dari kegiatan dakwahnya di Masjid BAKIN akhirnya semakin meluas. Pelan-pelan beliau mulai dakwah di lingkungan keluarga dan tetangga karyawan dan pejabat BAKIN.

Selain itu Efendi membentuk grup tahlil yang anggotanya terdiri dari karyawan-karyawan BAKIN. Grup itu dibentuk dalam rangka menyediakan bantuan personil tahlilan kepada keluarga karyawan dari tingkat sopir hingga jenderal yang tertimpa musibah kematian.

Tahun 1962, Effendi menikah dengan gadis pilihannya yang cantik, Ida Saodah. Mereka hidup dalam mahligai rumah tangga yang sakinah. Dari hasil pernikahan mereka, lahirlah tiga putra dan tiga putri, yaitu Herlina Susanti, Abdul Syafei (wafat usia 3 tahun), Nurita Hasanah, Abdul Hakim Al Hady, Abdul Rozak Taufiq dan Dian Nur’aini.

Dukungan keluarga terhadap kegiatan dakwah sama besarnya, Umi Ida Saodah menyarankan suami tercintanya untuk kuliah di bidang dakwah. Atas saran istrinya, Effendi kemudian kuliah di Fakultas Dakwah Universitas Islam Asy-Syafi’iyah, hingga memperoleh gelar sarjana muda (BA).

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...