Ini Deretan Ulama Besar Yang Berguru Pada Sufi

Dalam kitab Husnut Thalattuf fi Bayani Wujubi Sulukit Tasawuf, disebutkan beberapa ulama yang bergabung dalam barisan kelompok sufi.

Sayyid Abdullah bin Muhammad Shiddiq Al Ghumari, melihat para pembesar ulama, cendekiawan dan kaum bestari tertarik dan bergabung dalam barisan kelompok sufi ini karena tasawuf berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah.

Disebutkan di antara mereka ialah Al Hafidz Abu Nu’aim, Imam Izzuddin bin Abdussalam, Al Hafidz Ibnu Shalah, Imam Nawawi, Imam Taqiyuddin As Subki dan putranya Tajuddin As Subki, Al Hafidz Suyuthi dan masih banyak lagi. Baca juga…

Menyangkut hal ini Pendiri Mazhab Syafi’i memberikan kesaksian ketika berkumpul dengan kaum sufi, dengan berkata:

صحبت الصوفية فاستفدت منهم كلمتين: قولهم: الوقت سيف إن لم تقطعه قطعك، .قولهم: نفسك إن لم تشغلها بالحق شغلتك بالباطل

Aku berkumpul dengan kaum sufi, maka aku dapat mengambil dua kalimat (hikmah) dari mereka. Ucapan mereka (pertama): Waktu bagaikan pedang, jika engkau tidak dapat menggunakannya dengan baik, ia akan memenggalmu. Ucapan mereka (kedua): Ketika jiwamu tidak engkau sibukkan dengan hal-hal yang baik, maka sebenarnya kamu sedang sibuk dengan hal yang batil.

Salah seorang penghulu ulama Syafi’iyah, Imam Abul Abbas Ibnu Suraij dalam suatu majelis ilmu memberikan testimoni yang membuat takjub khalayak yang hadir.

هذا ببركة مجالستي لأبي القاسم الجنيد

Ini berkat mulazamah (duduk bareng belajar) dengan Imam Abul Qasim Al Junaid.

Syekhul Islam Zakariya Al Anshari yang juga seorang sufi dan ulama Mazhab Syafi’i mengatakan:

إذا لم يكن للفقيه علم بأحوال القوم واصطلاحاتهم فهو فقيه جاف

Jika dalam diri seorang Faqih (ahli fiqih) tidak terdapat ilmu menyangkut keadaan kaumnya dan berbagai istilah yang beredar di kalangan mereka, maka ia tergolong Faqih yang kering.

Para ulama syariat secara umum juga mendapatkan keistimewaan berkat bermulazamah dengan kaum sufi sebagimana diungkap oleh Al ‘Allamah Ibnu Al Hajj. Baca juga…

وغالب من يشار إليه من علماء الظاهر ممن له تميز وشغوف ونبوغ في الحفظ والإتقان إنما نال بمخالطة بعض العارفين، كابن سريج بمخالطة الجنيد والعز ابن عبد السلام بمخالطة أبي الحسن الشاذلي والتقي ابن العيد بمخالطة أبي العباس المرسي

Kebanyakan di kalangan ulama Zahir yang mempunyai keistimewaan, gairah dan kedalaman ilmu, jenius dalam menghafal dan menguasai berbagai cabang ilmu, hanya dicapai dengan bergaul, mendapatkan berkat, serta bermulazamah dengan orang-orang Arif. Seperti halnya Imam Ibnu Suraij yang berguru pada Sayyidit Thaifah Abul Qasim Al Junaid Al Baghdadi, Sulthanul Ulama, Imam Izzuddin bin Abdissalam yang bermulazamah dengan Abul Hasan As Syadzily, serta Taqiyuddin Ibnu Daqiq Al ‘Id yang berguru pada Abul ‘Abbas Al Mursi (Guru Ibnu ‘Athaillah As Sakandary).

Rekomendasi
Komentar
Loading...