Ini Level Finansial Yang Perlu Kamu Ketahui

Setiap orang masing-masing memiliki takdir yang tidak sama satu sama lain. Demikian juga dengan penghidupan dan keuangan yang dimiliki. Itu semua agar mekanisme keseimbangan dalam hidup bisa terpelihara.

Kendati demikian, dalam Islam mukmin yang kuat itu lebih baik dan dicintai Allah. Bukan hanya kuat dari segi keimanan dan ketaatan, tapi juga misalnya kuat dari segi finansial.

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah (HR. Muslim).

Seorang Financial Planner, Prita Hapsari Ghozie membagi level finansial ke dalam lima tahap. Menurutnya, dari sini bisa terlihat mengapa misalnya kamu tidak pernah bisa menabung. Yuk dilihat!

Pertama, Financial Ignorance

Cirinya abai terhadap pengaturan finansial. Tanpa mau ikhtiar, tidak mau berpikir dan mengevaluasi diri. Orang ini justru langsung pasrah tanpa mau berusaha. Menurutnya kondisi keuangan itu diterima dan dijalani saja, karena rencana keungan terbaik itu pasrah kepada-Nya.

Padahal dalam Islam muslim yang baik itu dilihat dari kemampuannya meninggalkan hal yang tidak bermanfaat secara prioritas. Tentu hal ini termasuk dalam urusan keuangan. Mulai dari cara memperoleh harta, manajemen harta hingga pendistribusiannya diatur dalam Islam.

Dalam ketentuan hukum Islam, misalnya dalam harta yang dimiliki itu ada kewajiban syariat yakni zakat yang diatur syarat dan ketentuannya. Belum lagi anjuran untuk bersedekah, wakaf, memberi pangan, hingga menyantuni anak yatim hingga berjihad dengan harta benda di jalan Allah. Itu semua mendorong setiap muslim tidak abai dan lalai terhadap kondisi finansialnya.

Kedua, Financial Anxiety

Di tahap ini sebetulnya mulai aware tentang pentingnya mengatur keuangan. Tapi selalu gelisah dan khawatir mengenai keuangan saat ini. Orang ini perlu belajar pengaturan keuangan.

Cirinya terlalu mengkhawatirkan apa yang terjadi bulan depan, karena tidak tahu penghasilan dari mana. Kemudian yang jadi cirinya juga ialah tidak pernah bisa menabung serta selalu membanding-bandingkan diri dengan pencapain orang lain alias insecure.

Orang ini sulit untuk berbahagia karena hobinya yang mengukur kemampuan pribadi dengan pencapaian orang lain. Padahal Islam menganjurkan agar selalu bersyukur atas nikmat dan anugerah Allah. Bukan hanya atas rezeki yang sifatnya material atau fisik tapi juga rezeki rohani atau yang sifatnya batin. Terutama bahagia dengan kehadiran Rasulullah Saw, hidayah Allah serta ajaran dan tuntunan Islam.

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Lihatlah orang yang berada di bawahmu, jangan melihat kepada orang yang di atasmu (dalam urusan dunia). Karena yang demikian itu lebih patut, agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang dianugerahkan padamu (HR. Tirmidzi).

Ketiga, Financial Maturity

Di level ini kamu sudah bisa memahami diri sendiri dan mampu mengambil keputusan yang baik dalam keuangan. Cirinya sudah bisa membedakan apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan. Bisa berkata tidak untuk belanja hal yang tidak prioritas. Sudah bisa mengatur pos pengeluaran setiap bulan dan tidak overbudget. Lalu juga sudah memiliki dana darurat untuk mengantisipasi kondisi di luar perkiraan.

Dalam tahap ini, kamu bisa terus memperbaiki kondisi keuangan atas izin Allah Swt. Mendayagunakan harta yang diamanahkan oleh Allah Swt untuk kebajikan. Serta mempersiapkan masa depan generasi penerus agar tidak lemah terutama secara finansial.

وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (An-Nisa’: 9).

Keempat, Financial Pride

Pada level ini cirinya ialah punya penghasilan yang lebih besar dari pengeluaran. Penghasilan yang besar pun sebenarnya bukan jaminan bisa sehat secara finansial. Tetap harus ditopang dengan financial planning (perencanaan keuangan) yang baik. Bagaimana harta diinvestasikan dengan baik untuk masa depan sekaligus bekal di hari kemudian. Jika tidak berhati-hati, maka bisa saja level keuangan kamu jadi turun kembali.

Kelima, Financial Wellbeing

Ini bisa dibilang level teratas dari kondisi finansial kamu. Saat kamu sudah bisa stick to the budget tanpa kesulitan. Punya dana darurat yang aman dan penuh serta punya proteksi. Kamu juga sudah merencanakan masa depan dan menabung untuk masa pension.

Ciri lain dari tahap ini yang juga penting ialah kamu tidak senang untuk menampilkan harta dan menonjolkan status kepada orang lain. Kamu bisa tetap bergaya hidup sederhana dengan merasa nyaman dengan diri sendiri karena tidak butuh pengakuan dari orang lain. Menyadari betul bahwa banyaknya harta bukan tanda kemuliaan, melainkan ujian sekaligus anugerah yang perlu disyukuri.

Financial wellbeing sejatinya ialah pada saat kamu bisa bersyukur dengan lebih baik. Peduli pada mereka yang membutuhkan. Serta mau berjuang di jalan Allah dengan harta yang dimiliki.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (At-Tawbah: 20).

Rekomendasi
Komentar
Loading...