Ini Ringkasan Bedah Kitab Miftahus Shudur Pasal 6

Jakarta – Siapa tidak tahu Kitab Miftahus Shudur (kunci pembuka dada)?. Kitab fenomenal susunan Syekh Ahmad Shahibul Wafa Tajul Arifin (qs) ini menjadi pegangan dasar pengamal TQN Pontren Suryalaya.

Untuk kesekian kalinya TQN Center Masjid Al-Mubarak mengadakan bedah kitab yang diterjemahkan oleh KH. Abu Arif Lc., MA. “Untuk kali ini yang dibedah adalah pasal enam. Lima pasal sebelumnya sudah pernah dibedah. Di sini … di Masjid Al-Mubarak,” ujar Agung, koordinator acara.

Mengawali kajian Kiai Abu bercerita tentang Perang Tabuk. Seusai perang Tabuk Rasul bersabda, “Kita pulang dari peperangan kecil menuju peperangan besar. Apa itu jihad besar? yaitu jihad melawan qalbu.” (HR Bayhaqi).

Perang di wilayah Tabuk ini terjadi sekitar bulan Rajab tahun 9 Hijriyah. Saat itu Rasulullah bersama para sahabat melawan pasukan Romawi. Perang ini juga menjadi perang terakhir Rasulullah. Baginda Nabi kembali dari perang Tabuk pada 26 Ramadan.

Pengasuh Pontren Fajar Dunia ini mengatakan perang melawan kafir ada ujungnya, namun melawan setan dan hawa nafsu tidak berujung. “Perlu waspada, menjaga lintasan-lintasan qalbu, agar akhir hidup tidak suul khatimah,” jelasnya.

Kiai Abu Arif bersama peserta bedah kitab.

“Perjuangan menjaga qalbu ditempuh sampai akhir masa, sebagai mana firman Allah dalam Surat Al-Hijr Ayat sembilan puluh sembilan. Beribadahlah kepada TuhanMu sampai datangnya keyakinan (kematian),” sambung suami dari DR Lita Gunawati.

Ayah dari Aunia Ashfiya Arifina ini selanjutnya menyampaikan bonus orang yang perang melawan orang kafir adalah surga, sedangkan perang melawan setan bonusnya memandang Allah. “Perkuat mujahadah melawan hawa nafsu untuk perjumpaan dengan Yang Maha Rahman,” kata Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jurusan Ilmu Hadis.

Tidak kurang dari 80 ikhwan dan akhwat ikut kegiatan yang dihelat di aula masjid. “Alhamdulillah peserta sangat antusias mengikuti acara bedah kitab Miftahus Shudur. Semua ikut sampai selesai, mulai dari pukul delapan pagi sampai lima sore,” ungkap Ustadz Abdul Latief Ketua Yayasan Al-Mubarak. (Latief/Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...