Ini yang Dibahas KH. Wahfiudin di Kuliah Umum Pasca Sarjana IAILM

Tasikmalaya – Berkembangnya fenomena kehidupan yang materialistik, sekuleristik dan hedonistik menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia perguruan tinggi untuk merekonstruksi sistem pendidikan sebagai solusi problematika dunia modern. Pondok Pesantren Suryalaya melalui Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) terus bergerak mengembangkan aspek ilmiah dan amaliah tasawuf.

Seperti tertulis dalam laman iailm.ac.id Kementerian Agama RI melalui SK No: 6267 tahun 2014 menunjuk dan memercayakan penyelenggaraan pendidikan S2 Prodi Akhlak Tasawuf pada Program Pascasarjana IAILM PP Suryalaya. “Akhlak Tasawuf adalah program studi yang pertama di Indonesia, satu-satunya di Indonesia,” ujar Sekretaris Prodi Akhlak Tasawuf, DR. Wawan M.Si.

Hari ini (12/10) Program Pasca Sarjana IAILM menyelenggarakan kuliah umum untuk mahasiswa Prodi Akhlak Tasawuf, menghadirkan Wakil Talqin TQN Suryalaya, KH. Wahfiudin Sakam SE. MBA. Anis, kontributor TQNNews menyampaikan jika Kyai Wahfiudin menyampaikan materi dzikrullah. “Dzikir dan Fikir itu berbeda pendekatannya. Dalam quran surat 3 ayat 191, dijelaskan bahwa dzikir ditujukan ke Allah dan fikir ke fenomena alam,” ungkap KH Wahfudin.

Ia pun menambahkan dzikir menggunakan rasa dan kesadaran sedangkan fikir melibatkan indera dan logika. Dzikir bersifat transendental metafisik namun fikir rasional empirik. “Makanya jika lagi dzikir stop thinking. Buat diri kita no mind,” pungkasnya di Gedung Pascasarjana.

Dalam kesempatan itu, Kyai yang juga Sekretaris Div. DIKLAT & Pengkaderan LDNU ini menjelaskan bahwa hakikat diri manusia adalah diri yang berwujud ruh, dengan qalbu sebagai pusatnya. “Kita telah diajarkan dua macam dzikir, jahri dan sirri. Saat dzikir jahri hujamkan kalimat tauhid hingga tebus ke dalam qalbu,” sambungnya.

Selanjutnya, pria yang akrab disapa Kyai Wahfi mengingatkan, untuk berubah menjadi manusia yang baik, prosesnya melalui dzikrullah. “Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah sudah menjelaskan untuk memperbaiki iman dengan memperbanyak ucapan Laa ilaaha illallaah.

Di akhir pemaparan, Kyai Wahfi menjelaskan konsep Ilah. Menurut Wakil Ketua Komisi Pendidikan & Kaderisasi MUI Pusat ini, Ilah adalah segala sesuatu yang dipentingkan sedemikian rupa sehingga orang terdominasi oleh sesuatu itu. “Ilah bisa hawa nafsu, penguasa kaya, benda berharga dan figur yang mempunyai kesaktian,” katanya.

“Maka untuk membersihkan diri memang dengan memperbanyak ucapan Laa ilaaha illallah. Laa ilaaha, tiada yang kita damba, tiada yang kita pentingkan, tiada yang kita agungkan, tiada yang kita segalakan, illallaah, kecual Allah,” tutup Ia menjelaskan. (Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...