Islamic Social Engineering, Keahlian yang Diperlukan Umat

Dunia internasional sedang tergagap pasca runtuhnya Sosialisme Komunisme dan terguncangnya Kapitalisme Liberalisme. Kondisi ini memberi peluang tampilnya Ekonomi Islam yang antara lain memiliki keunggulan non-riba dan Islamic Social Fund (ISF).

Terlebih lagi di masa Pandemi Covid-19 yang tidak hanya berakibat pada sektor kesehatan, namun juga perekonomian. Hadirnya ekonomi Islam dinantikan oleh dunia untuk membebaskan masyarakat dari belitan oligarki ribawi dan membawanya menuju kesejahteraan dan keadilan.

Globalisme dan tuntutan kolaborasi internasional memberi peluang umat Islam tampil menjalin dan memimpin perubahan. Telah banyak program kerja sama yang digagas tokoh-tokoh muslim dalam berbagai bidang seperti pendidikan dan iptek, filantrofi dan kemanusiaan, ekonomi, lingkungan, dan perdamaian di berbagai negara yang memiliki konflik.

Menurut Kiai Wahfiudin setidaknya ada dua kemampuan yang dibutuhkan saat ini. Problem Solving dan Colaborative Actions.

Dua kemampuan itu diyakininya dapat menjawab problematika yang dihadapi umat saat ini. Pendidikan agama yang hanya terpaku pada pengajaran bersifat normatif tidaklah cukup. Segala macam norma agama, moral, adat dan hukum hanya terbatas pada apa yang seharusnya ada dan terjadi (what should be). 

“Diperlukan yang lebih dari itu, yaitu keahlian mengadakan dan menjadikan. Itulah engineering atau keahlian rekayasa dan manajemen. Keahlian yang terkait Islamic Social Engineering,” ujar Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya kepada redaksi melalui pesan singkat, Jumat (27/11).

Semoga Allah limpahkan kepada umat Islam perlindungan, hidayah, tawfiq dan ma’unah.

Rekomendasi
Komentar
Loading...