Jangan Bohongi Allah

Ada seorang pria tengah mengalami kesusahan. Dia bernadzar, jika semua masalahnya terselesaikan, dia akan menjual rumah dan menyedekahkan semua uang yang diperoleh dari penjualan itu kepada fakir-miskin.

Setelah beberapa lama kemudian, semua masalah peliknya terselesaikan. Teringatlah dia pada nadzarnya. Tapi dia sudah berubah pikiran. Di satu sisi dia harus tetap memenuhi janjinya pada Allah. Di sisi lain hatinya merasa berat jika uang sebanyak itu dibagikan kepada orang lain. Dia berpikir keras mencari jalan keluar.

Tak lama kemudian, sebuah ide cerdik datang. Dia menawarkan rumahnya seharga satu dirham. Dia mempunyai seekor kucing, dan secara bersamaan kucing itu ditawarkannya seharga sepuluh ribu dirham.

Hari demi hari berlalu. Datanglah seseorang membeli rumah dan kucingnya. Lalu, satu dirham hasil penjualan rumahnya dia berikan kepada fakir-miskin, dan sepuluh ribu dirham dari penjualan kucing ia masukkan ke kantong untuk dirinya sendiri.

Demikianlah cara berpikir kebanyakan orang. Mereka memutuskan untuk berguru pada seorang mursyid. Tapi mereka mempergauli mursyidnya dengan beragam tafsiran yang menguntungkan dirinya sendiri. Selama mereka tidak menghilangkan kecenderungan ini dengan latihan-latihan spiritual tertentu, mereka tidak akan beroleh ilmu apa-apa dari sang guru.

Hikmah

Cerita singkat ini penuh makna. Secara hukum syar’iat, dengan memberikan uang hasil penjualan rumahnya kepada fakir-miskin, berapapun jumlahnya, pria itu telah dianggap telah memenuhi janjinya. Dia telah bebas dari kewajiban hukum syariat.

Tetapi, andaikan janji itu ditujukan kepada kita, apa yang akan kita lakukan? Dan bagaimana perasaan kita? Barangkali, secara manusiawi kit akan kecewa. Kita merasa telah dipermainkan, atau bahkan merasa tertipu. Tetapi apa mau diperbuat, secara hukum dia telah memenuhi janjinya. Tetapi dari kacamata akhlak, ini adalah perbuatan yang tidak baik. Allah swt mengingatkan: “Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, sehingga menggelincirkan kakimu sesudah kau mengokohkannya. Kamu pun akan rasakan kesusahan karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Bagimu azab yang besar.” (QS. An-Nahl: 16).

Maka, jika terhadap sesama manusia saja ini tidak pantas dilakukan, apalagi terhadap Allah.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...