Jangan Lupa Diri

Jika tidak demikian, tanpa disadari kita akan mudah menyinggung perasaan orang lain. Bahkan, jika sering atau berlebihan, orang itu mungkin akan merasa terzalimi sedangkan kita tak menyadarinya. Kita sendiri yang akan dirugikan. Rasulullah SAW mengingatkan, “Takutlah engkau pada do’anya orang yang terzalimi. Sebab antara dia dan Allah tak ada hijab”. (HR. Ahmad dan Bukhari).

Keunggulan duniawi memang sering membuat kita sombong. Saat kita kaya, akan mudah merendahkan yang miskin. Dengan kepintaran kita, akan mudah meremehkan yang bodoh. Dengan kecantikan kita, akan mudah merendahkan yang penampilannya biasa. Bahkan, keunggulan relijius dan spiritual pun tak jarang membuat seseorang mudah meremehkan yang ibadahnya kurang taat dan pengalaman spiritualnya lebih sedikit.

Rasulullah SAW bersabda, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”. (HR. Muslim).

Untuk itu, seperti dicontohkan Syaikh Bisyr pada kisah di atas, hendaknya kita gemar menyejajarkan diri dengan orang-orang yang lebih rendah keadaannya, baik dalam hal duniawi maupun ruhani, meskipun kenyataannya kita lebih tinggi. Kita mau bergaul dengan mereka sebagaimana kita bergaul dengan orang-orang yang sederajat atau yang lebih tinggi.

Syaikh Abdullah Murabok (1836-1956), seorang ulama sufi dari Tasikmalaya, dalam Tanbih-nya berwasiat, “Terhadap orang-orang di bawah kita, janganlah menghina atau berbuat semena-mena, tak mau menghargai. Sebaliknya, bergaullah dengan mereka dengan kasih-sayang dan penuh kerelaan, terhadap fakir-miskin harus berkasih-sayang, berbudi bersih, serta bermurah tangan. Tunjukkanlah bahwa hati kita peduli.”

Ini mungkin berat, tetapi sangat dianjurkan, sebagai terapi ruhani untuk merontokkan atau menghindarkan diri dari virus kesombongan. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku hendaknya kalian merendahkan hati sehingga tak seorang pun menyombongkan diri dan berbuat semena-mena atas yang lain.” (HR. Muslim).

Sombong bermula dari lupa diri. Kita merasa, semua keunggulan duniawi, relijius atau spiritual itu adalah prestasi kita, milik kita yang diperoleh karena kehebatan kita. Kita lupa bahwa itu semua adalah pemberian dari Allah. Kita lupa semua itu dianugerahkan Allah bukan untuk dimiliki, dibanggakan apalagi disombongkan. Sebaliknya, setiap keunggulan itu menjadi ujian bagi kita. Allah SWT mengingatkan, “Dan Dialah yang menjadikan kalian para penguasa di bumi. Dia meninggikan sebagian dari kalian beberapa derajat, untuk menguji kalian atas apa yang Dia anugerahkan pada kalian”. (QS Al-An’am: 165).

Kita justru akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap nikmat yang diperoleh, apalagi jika nikmat tersebut berlebih di atas orang lain. “Kemudian, sungguh kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas semua nikmat itu”. (QS At-Takatsur: 8).

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...