Jangan Lupa Diri

Semua datang dari Allah. Apa yang kita miliki dari Allah. Diri kita pun ciptaan Allah. Semua diatur dan digerakkan oleh Allah. Pada masanya masing-masing, seluruhnya akan kembali kepada-Nya. Tak terkecuali diri kita dan apa yang selama ini kita miliki.

Saat maut menjemput, tak satu pun ikut. Semua kesenangan yang kita buru seumur hidup akan sirna. Semua yang kita banggakan, pangkat, jabatan, kekayaan, ilmu, kecantikan tak akan berarti apa-apa. Tubuh pun akan kita campakkan.

Dilihat dari kapan kita akan mati, dan bagaimana kondisi kita saat dimatikan, kita semua sama. Semua menjadi rahasia dan kehendak Allah. Lalu apa yang dibanggakan? Apa pula alasan tetap merasa diri lebih baik dari pada yang lain?

Bekal terbaik menjalani hidup bukan segala kemewahan dunia itu, tetapi takwa. Jika hidup dijalani dengan takwa, ini menjadi bekal menjemput kematian. “Berbekallah. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai para pemilik qalbu”. (QS Al-Baqarah: 197).

Takwa tak ada hubungannya dengan tampilan luar seseorang. Ia bisa dimiliki siapapun yang beriman kepada Allah. Miskin, kaya, pintar, bodoh, ulama, awam, semua memiliki kesempatan yang sama untuk takwa. Ini menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Allah. Inilah yang menentukan kualitas hidup seseorang di dunia. Ini pula yang menentukan kebahagiaannya kelak di kubur dan akherat.

Maka, belajarlah untuk menghargai orang lain, dan peduli pada kondisi mereka, apalagi yang lebih rendah dari kita. Barangkali di antara mereka ada yang bertakwa dan dikasihi Allah. Jika kita memperlakukannya dengan santun, kita akan memperoleh limpahan doanya. Karena Allah akan mengabulkan doa setiap hamba yang dikasihi-Nya. Sebaliknya, jika kita menzaliminya, Allah-lah yang akan membalaskannya pada kita.

Allah SWT berfirman, Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaKu, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya”. (HR Bukhari).

Barangkali juga, orang yang kita anggap biasa ternyata mulia di sisi Allah. Sementara kita, yang dianggap mulia oleh banyak orang, karena ibadah, penampilan, ilmu atau harta kita, ternyata tidak demikian di mata Allah. Kita harus pandai menempatkan diri. Kita ini diciptakan sebagai hamba. Maka jangan pernah menjadi tuan bagi hamba Allah yang lain.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...