Jangan Persempit Makna Ibadah

Ketika manusia diciptakan untuk beribadah, maka sejatinya waktu hidupnya yang 24 jam sehari dipersembahkan untuk Allah Swt.

Karena bagaimana disebut hidup dibuat untuk beribadah tetapi ibadah yang dimaksud hanya berwujud ritual semata.

Maka mau tidak mau, suka tidak suka ibadah mesti ditopang oleh ilmu. Sebab untuk beribadah, mesti mengetahui terlebih dahulu apa yang menjadi perintah dan larangan-Nya.

Perintah dan larangan Allah Swt berlaku dalam setiap langkah manusia. Dengan kalimat lain, setiap langkah manusia hendaknya merupakan manifestasi dari ibadah. Ini juga berarti jangan persempit bahwa ibadah hanya berkutat pada ritualitas di masjid. Justru masjid menjadi tempat sujud yang meningkatkan kualitas ibadah di luar masjid.

Segala bentuk kebaikan, karya bakti kontrbusi positif, dan segala upaya untuk memakmurkan bumi adalah ibadah. Maka kegiatan lahir batin, yang melibatkan akal, fisik, dan jiwanya. Lalu kegiatan ilmiah, sosial, ekonomi, politik, pertahanan, keamanan, bahkan canda, bercinta dan berhubungan suami istri adalah ibadah.

Dari sini ulama berkata bahwa hidup adalah perpindahan dari satu aktivitas ibadah ke ibadah lainnya. Sekali lagi ibadah mencakup segala hal yang dapat dilakukan manusia, baik senang maupun susah, selama dilakukan demi karena Allah dan dalam konteks kepatuhan kepada-Nya.

Ini yang kemudian ibadah disebut terbagi dua ada yang mahdhah (murni) dan ibadah yang ghairu mahdhah (tidak murni).

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, (Al-An’am 162).

Di sinilah pentingnya sebuah niat ibadah dalam setiap tugas dan peran kita. Sehingga kegiatan yang bersifat duniawi bernilai ukhrawi. Bukan hanya niat dan ilmu yang dibutuhkan untuk ibadah tapi juga dituntut keikhlasan dalam menjalankannya.

Rekomendasi
Komentar
Loading...