Jejak Sufi di Yerusalem

Yerusalem adalah salah satu kota tertua di dunia. Terletak di dataran tinggi Pegunungan Yudea antara Laut Tengah dan Laut Mati. Kota ini dikenal dengan Al-Quds (kota suci). Sebuah kota yang dianggap suci oleh tiga agama Abrahamik yaitu Yahudi, Kristen dan Islam.

Sebagai kota suci, tak heran jika kota ini menjadi magnet bagi tujuan perjalanan rohani atau spiritual bagi pemeluk tiga agama tersebut. Bagi pemeluk agama Islam, Yerusalem adalah kota suci ketiga setelah Mekah dan Madinah.

Nabi Muhammad Saw, bertolak ke surga dari kota ini dalam sebuah peristiwa yang masyhur, Isra’ Mi’raj. Sehingga diyakini, bahwa kota ini sebagai titik terdekat ke surga.

Tak heran pula, jika di kemudian hari kota ini juga menjadi tujuan bagi para sufi. Untuk sekadar berziarah atau bahkan menetap di dalamnya. Bahkan di era pemerintahan Ottoman (1516-1917), ketika Sultan Ottoman mendukung ajaran tasawuf di semua wilayahnya, termasuk Yerusalem, kehidupan sufi menonjol di kota ini.

Sebagian besar tokoh sufi dalam sejarah tasawuf pernah mengunjungi kota ini. Sebagian dari mereka bahkan meninggal dan dikuburkan di sana. Sebagian lainnya menghabiskan kehidupan di kota suci ini.

Sufi perempuan Rabiah al-Adawiyya (717-801 M), adalah salah satu yang mengunjungi Yerusalem dan menjalani sisa hidupnya di sana. Ia dimakamkan di at-Tur (Bukit Zaitun). Hingga saat ini banyak umat Muslim menziarahi makamnya.

Ada banyak makam syekh sufi di Yerusalem. Sebagian besar mereka dimakamkan di pemakaman Islam di sisi barat kota Mamela.

Mengutip mideastweb.org, Dr. Kamel L Asali, penulis buku “Islamic Mausolea and Cemeteries In Jerusalem” menyebutkan ada sekitar 35 nama syekh Sufi yang dimakamkan di Mamela sepanjang sejarah.

Beberapa di antaranya dimakamkan di sebuah tempat yang disebut dalam bahasa Arab housh, sebuah komplek pemakaman kecil, dimana syekh dan para pengikut tarekatnya dimakamkan di sekitar itu.

Makam lainnya tersebar di berbagai bagian dari kota itu, terutama di dalam tembok kota tua, komplek pemakaman tersebut biasanya dikenal dengan zawya.

Masa keemasan ajaran tasawuf di Yerusalem terjadi pada era Ottoman. Sementara, lembaga sufi pertama yang didirikan di sana adalah ‘Al-Khaniqah Al-Karamia’ yang dibangun oleh seorang sufi bernama Mohamed bin Karam (w. 868 M).

Dia berasal dari Sagistan di Asia, dan mengajar di masjid al-Aqsa. Tapi kemudian dia ditinggalkan orang-orang setelah mulai mengatakan bahwa manusia bisa beriman kepada Tuhan hanya dengan mengatakannya tanpa perlu berbuat.

Pada abad ke-17 ada sekitar 70 lembaga sufi di Yerusalem, masing-masing mengacu pada tarekat yang berbeda-beda.

Catatan al-Nabulsi

Catatan yang paling terkenal tentang sufisme di Yerusalem di antaranya milik Abed al-Ghane al-Nabulsi. Al-Nabulsi dianggap seorang sufi hebat pada masa itu. Ia berkunjung ke Yerusalem pada tahun 1690 M, dan menulis sebuah catatan berjudul “al-Hadra al-Unsia fi ar-Rihla al-Maqdisia”.

Dalam catatanya, ia memberi gambaran tentang para sufi di kota Yerusalem. Ia mengunjungi beberapa zawya, mengetahui beberapa informasi tentang bangunan yang didirikan para sufi yang sebagian besarnya masih ada sampai sekarang.

Al-Nabulsi menggambarkan pengalaman spiritualnya, pertemuannya dengan orang-orang suci, tempat-tempat suci serta makam-makam suci.

Al-Nabulsi mencatat, orang-orang suci ini termasuk para sufi anggota tarekat, juga para “majadhib” yaitu orang-orang yang hidup di luar kebiasaan norma masyarakat.

Ia menggambarkan beberapa dari “majadhib” ini mengembara tanpa pakaian, dan sebagian lainnya hanya mengenakan kain lap. Mereka dipercaya sebagai orang-orang yang diberkati dengan kekuatan khusus untuk membaca pikiran orang lain dan bisa melihat masa depan.

Dua orang suci di Yerusalem (diklaim sebagai sufi). (Foto: Robert E. M. Bain tahun 1894)

Tapi sayang, pada dekade berikutnya situasi itu berubah. Gambaran masyarakat seperti itu seolah lenyap begitu saja.

Mereka dilenyapkan oleh gabungan kekuatan antara modernisasi dan kolonialisme serta ideologi Wahabi dan Salafi yang memang mencela sufisme sebagai tidak Islami.

Namun ada juga yang mengatakan, situasi ekonomi kota tersebut yang memburuk serta ketidakpahaman orang-orang tentang tasawuf, membuat banyak orang miskin di kota itu mendadak sufi. Hal ini membawa dampak negatif terhadap tasawuf dan menghilangkan esensinya.

Banyak orang yang kemudian melakukan hal-hal aneh, namun dianggap sebagai “mabruuk” (diberkati). Tasawuf pun tercerabut dari akarnya untuk menyucikan pikiran dan hati, menjadi sejenis usaha untuk mencari nafkah.

Jejak Sebuah Pondok Milik Sufi India

Jejak lainnya adalah sebuah pondok kecil milik orang-orang India yang telah berusia lebih dari 800 tahun di sudut kota Yerusalem.

Mengutip BBC, ada sudut kecil di Yerusalem yang selamanya bernuansa India, setidaknya sudah lebih dari 800 tahun.

Sekitar tahun 1200, kurang dari satu dekade setelah tentara Saladin memaksa Pasukan Salib keluar kota itu, seorang sufi asal India masuk ke Yerusalem.

Ia bernama Hazrat Farid ud-Din Ganj Shakar atau dikenal dengan Baba Farid. Ia seorang anggota tarekat Chisti, tarekat beraliran sunni yang banyak tumbuh di India, Pakistan dan Afghanistan. Chisti sendiri diambil dari nama sebuah kota kecil di Pakistan.

Baba Farid menghabiskan hari-harinya di pondok tersebut, ia menyapu lantai batu di sekitar masjid al-Aqsa atau berpuasa dalam kesunyian di dalam tembok kota.

Tidak ada yang tahu persis berapa lama Baba Farid tinggal di kota itu. Tapi lama setelah dia kembali ke Punjab, dan menjadi pemimpin tarekat Chisti di sana, muslim India yang melewati Yerusalem dalam perjalanan haji ke Mekah, selalu salat di tempat dimana dia salat, dan tidur di tempat dia tidur. Pondok kecil itu.

Lebih dari delapan abad kemudian, pondok itu masih ada. Meskipun berdiri di dalam tembok Yerusalem, dan berada di tanah yang paling diperebutkan di dunia, sampai sekarang tempat itu masih milik orang-orang India.

Kepala pondok saat ini adalah Muhammad Munir Ansari yang telah berusia 86 tahun. Ia dibesarkan di sana pada tahun-tahun sebelum Perang Dunia Kedua.

“Semua penghuninya adalah orang India. Saya merasa seolah-olah saya tinggal di India,” katanya kepada BBC.

Muhammad Munir Ansari waktu kecil.

Pondok tersebut pernah menjadi kamp istirahat untuk divisi Infanteri Keempat India, pada saat perang Arab-Israel pertama meletus tahun 1948.

Saat Munir menggantikan ayahnya sebagai Syekh atau kepala pondok pada tahun 1952, bangunan itu pernah rusak oleh penembakan dan dibanjiri pengungsi Palestina. Pada tahun 1967, ketika terjadi Perang Enam Hari, pondok itu juga terkena roket.

Rekomendasi
Komentar
Loading...