Jelang Pilkada, Ini Pesan Untuk Para Pemimpin

Tidak lama lagi gelaran pilkada 2020 segera dimulai. Berbagai persiapan sedang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), termasuk partai politik. Lobi-lobi semakin gencar membangun koalisi lalu menyusun strategi pemenangan.

Islam melihat kepemimpinan sebagai amanah. Layaknya menerima titipan dari seseorang maka orang yang dititipi harus menjaga dengan baik.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58).

Diriwayatkan Abu Daud, Rasulullah Saw berkata: “Seseorang pada hari akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal, usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa digunakan, hartanya darimana didapatkan dan untuk apa digunakan, serta ilmunya untuk apa digunakan.”

Secara tekstual maupun substantif, Islam mengajarkan pentingnya menjaga amanah, menggunakan kekuasaan untuk kepentingan umum bukan pribadi dan golongan. Ada rambu-rambu yang keras untuk mencegah korupsi maupun menegakkan hukum dalam kasus korupsi, tanpa pilih kasih.

Rasulullah Saw memberi contoh yang sangat tegas dengan mengatakan, jika putrinya mencuri niscaya akan memotong tangannya.

Kisah lain yang tak kalah menarik terjadi pada masa Kekhalifahan Umar Ibn Khathab ra. Sang khalifah melakukan inspeksi ke pasar untuk memeriksa apakah para pedagang bertindak jujur dalam menjual dagangannya.

Umar Ibn Khathab menjumpai beberapa sahabat yang ditunjuk menjadi pegawai (aparatur) masih melakukan usaha transaksi perdagangan di pasar, padahal mereka sudah menerima upah. Kemudian Sayidina Umar mengumpulkan mereka dan melarang melakukan jual beli karena mereka telah diamanahi urusan melayani umat dan digaji oleh negara.

Para pejabat negara diperintahkan menghitung kenaikan harta benda yang mereka miliki. Jika dirasa terdapat kenaikan yang tidak wajar dibandingkan dengan usahanya, maka kelebihan harta tersebut disita untuk baitul maal (kas negara).

Kisah lainnya tentang Abdullah Ibn Umar, putra Khalifah Umar ra. Ia terlihat di sedang di pasar dengan hewan ternak miliknya yang lebih baik dan lebih gemuk dari yang lain.

Khalifah Umar ra memanggil Abdullah, menanyakan perihal hewan ternaknya. Abdullah mengatakan hewan ternak itu dibelinya dengan harga wajar, lalu digembalakan bersama hewan ternak lain di lapangan penggembala bersama.

Namun Khalifah Umar punya alasan mengapa hewan ternak milik Abdullah lebih gemuk, yakni karena warga memberi tempat dan waktu yang lebih leluasa bagi hewan ternak Abdullah, karena ia anak Khalifah. Kemudian Khalifah meminta Abdullah menghitung keuntungan yang wajar dari hewan ternaknya, kelebihannya diambil untuk baitul maal.

Kisah di atas memberikan gambaran bagaimana tanggung jawab seorang pemimpin. Pemimpin hadir untuk memberikan rasa aman, nyaman untuk warganya. Ketakwaan kepada Allah SWT dan keadilan bagi sesama menjadi 2 faktor utama keberhasilan menjadi pemimpin. (Arif/Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...