Jihad Harta Bukti Keimanan

Umat Islam dalam al Qur’an disebut sebagai ummatan washata yang berarti umat pertengahan. Idealnya, memang umat Islam berdiri tegak di tengah menjadi teladan dalam aneka sisi kehidupan umat manusia. Menjadi titik simpul persaudaraan umat manusia serta mewujudkan keadilan di tengah masyarakat dunia.

Tapi sayang harapan dan kenyataan tak berbanding lurus. Demikian pula yang terjadi dengan umat Islam di Indonesia. Mayoritas secara kuantitatif tetapi minoritas dari segi kualitatif. Unggul dalam jumlah tapi masih minim dari segi peran dan kontribusinya.

Misalnya pertumbuhan ekonomi yang tidak berbanding lurus dengan populasi umat Islam. Bahkan laporan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menyebutkan 1 persen orang kaya di Indonesia menguasai 50 % aset nasional.

Yang jika dinaikkan jadi 10 % menguasai 70 % aset nasional. Dengan kalimat lain 90 % penduduk memperebutkan 30 % aset yang tersisa. Maka dapat dipahami mengapa Indonesia jadi negara tertimpang keempat di dunia.

Jika menengok ke belakang, Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari realitas sejarah bahwa umat Islam lah pemilik mayoritas saham negeri ini. Tak ada kemerdekaan Indonesia tanpa perjuangan umat Islam khususnya peran dari ulama tarekat di tanah air. Tapi sayang dari tahun ke tahun peran dan penguasaan aset yang dikelola untuk kebaikan semakin minim.

Lihat saja misalnya siapa orang-orang kaya di negeri ini, masih didominasi oleh yang bukan muslim. Bukan hendak menonjolkan perbedaan agama tapi sebagai refleksi atas kultur dan spirit jihad masyarakat muslim khususnya di Indonesia yang dibuktikan dengan data dan fakta di lapangan.

Jihad dengan Harta Bukti Keimanan

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al Hujurat: 15).

Jihad dengan harta ialah salah satu bukti keimanan. Hal ini juga menekankan pentingnya penguasaan harta dan aset yang digunakan untuk berjihad menegakkan kalimat Allah dan nilai-nilai ajaran Islam di muka bumi.

Kata jihad sendiri berasal dari kata jahd yang awalnya berarti kesulitan atau kesukaran ataupun kata juhud yang bermakna kemampuan. Sehingga orang yang berjihad pasti menghadapi kesulitan dan tidak akan berhenti sampai ia mengerahkan segenap kemampuannya hingga apa yang menjadi tujuannya berhasil.

Berjihad sebagaimana dicontohkan Rasul Saw menunjukkan perlunya modal harta bukan hanya keringat, waktu dan tenaga. Sehingga wajar Nabi Saw bersabda, “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.”

Salah satu doktrin Islam yang bernama jihad terlihat belum diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga wajar jika Syakib Arslan penulis buku Limadza Ta’akhkharal Muslimun wa Taqaddama Ghairuhum menyebutkan di antara sebab kemunduran muslim ialah kebodohan, kemalasan, semangat berkorban yang lemah, hingga etos kerja dan kepercayaan diri yang hilang.

Namun penting digaris bawahi, bahwa dalam Islam jihad tidak dipersempit oleh pertempuran di medan perang. Tetapi memiliki banyak medan seperti berjihad melawan kebodohan, kezaliman, ketimpangan sosial dan ekonomi, korupsi, narkoba, terorisme serta penguasaan sumber daya alam oleh sekelompok kecil orang.

Sudah sewajarnya iman yang ada di qalbu membuat kita terpanggil memenuhi seruan jihad. Karena selama kebodohan dan ‘jahiliyah’ masih hinggap di masyarakat kita, selama keadilan sosial belum terwujud, selama kelestarian dan keseimbangan alam raya belum terlaksana, selama kezaliman dan kesewang-wenangan masih ada di tengah-tengah kita, maka semangat jihad harus tetap menggelora dan membahana.

Tetapi semangat yang membahana itu jangan sampai melupakan prinsip, bahwa ke semua jihad yang disebutkan itu berawal dari jihad ke dalam melawan hawa nafsu. Karena jihad yang abadi ialah jihad mengendalikan diri.

Ketika pulang dari salah satu perang yang paling dahsyat dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad Saw berkata kepada para sahabatnya. “Kita pulang dari perang yang lebih kecil menuju perang yang lebih besar.”

Para sahabat saling berpandangan dan bertanya-tanya. “Bukankah perang yang baru dilalui adalah perang yang besar?” Salah seorang sahabat kemudian bertanya, “apa perang yang lebih besar itu wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “perang melawan hawa nafsu.”

Perang ke dalam diri (baca: melawan hawa nafsu) yang diajarkan Rasulullah kemudian digaungkan kembali oleh ulama tarekat. Kita diajarkan bahwa aneka jihad ke luar diri itu akan lahir ketika jihad di dalam sudah berjalan baik. Maka tak aneh jika para ulama tarekat dan murid-muridnya itu selalu menjadi pelopor dalam melawan penjajahan dan kezaliman serta ketimpangan ekonomi di setiap zaman.

Pertanyaannya apakah jihad di dalam diri itu sudah berjalan baik atau belum. Sehingga jihad ke luar itu seakan akan sedang tertidur lelap dikekap hawa nafsu.

Rekomendasi
Komentar
Loading...