Julian Patrick Millie, MA, PhD: Tasawuf Dalam Perspektif Antropologi (1)

Tasikmalaya – Pusat Kajian Tasawuf ASEAN bersama Pascasarjana IAILM (Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah) PP Suryalaya, Senin (21/11) menyelenggarakan Seminar Internasional dengan judul “Sufism in Anthropogical Perspective.” Seminar dengan nara sumber Julian Patrick Millie, MA, PhD dari Monash University ini dihelat di Aula Mini Tarminah Bakti, kampus IAILM PP Suryalaya, Tasikmalaya.

Acara yang dibuka oleh Rektor IAILM terpilih, Dr. H. Iwan Prawiranata, PhD ini dihadiri lebih dari 100 peserta yang terdiri dari Dosen, Mahasiswa S1, Mahasiswa S2 dan peminat diskusi. Berlaku sebagai moderator, Direktur Pascasarjana IAILM, Dr. Ajid Thohir, MA.

Berikut ringkasan yang disajikan oleh Drs. Asep Haerul Gani,

1. Kitab Manaqib (Hagiografi) Syaikh Abdul Qadir Jailani

Sebagai Antropolog yang melakukan penelitian di tanah Sunda, Julian mampu membuat peserta tertarik, menyapa peserta dengan sapaan dan ungkapan bahasa Sunda. Ia tertarik dengan fenomena yang hidup di masyarakat daerah Parongpong Bandung Barat, berupa tradisi pembacaan Buku Wawacan tentang Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani. Masyarakat mengenalnya dengan Pangaosan Layang Syaikh . Peneliti ini tertarik pada tradisi yang hidup, pembacaan naskah wawacan layang Syaikh yang dilagukan, penuh sakralitas.

Julian berkenalan dengan Pak Rustana yang membuatnya mulai mengenali fenomena dan menambah penasaran. Ia terpincut dengan kenyataan bahwa sebuah buku bisa membuat masyarakat berkumpul dan beraktifitas bersama. Muncul pertanyaan di benaknya, “Bagaimana sebuah buku dapat mengekspresikan ikatan?”. Ia menemukan tradisi pembacaan Layang Syaikh di Parongpong dekat dengan tradisi ritual de passages , seperti kelahiran, tujuh bulanan, membangun rumah, memulai usaha.

Dalam tradisi itu ia melihat pula penyediaan makanan tertentu yang merupakan prasyarat dalam penyelenggaraan kegiatan. Pembacaan layang Syaikh dapat melampaui 1 jam, dan peserta umumnya akan mengusahakan hadir pada saat pembacaan cerita nomor tertentu. Menyimak jawaban-jawaban dari informan yang terlibat dalam tradisi ini, mereka melakukan itu karena ingin “terciprat keberkahan” . Karena itu pula disertasinya diberi judul “Splashed by the Saint: Ritual Reading and Islamic Sancity in West Java”.

Dengan adanya upacara pembacaan Layang Syaikh itu, masyarakat menjadi berkumpul dalam ikatan. Saat mereka masak menyiapkan makanan mereka berkumpul dan membuat mereka terikat. Saat mereka berada dalam ritual itu, mereka pun mengalami ikatan ruhaniah. Pertama secara ruhani dengan Tuhan. Kedua dengan Syaikh Abdul Qadir Jailani. Ketiga dengan Tokoh-tokoh yang disebutkan namanya di dalam Layang Syaikh.

Atas petunjuk seorang Ustadz di Cimahi, Julian diperkenalkan dengan tradisi Pembacaan Kisah Syaikh Abdul Qadir Jailani (Manaqib) yang lain yang ada di Pondok Pesantren Suryalaya, yang sering dilakukan pada tradisi “Sawelasan”. Julian belajar tentang Tanbih dan Manaqib dalam tradisi yang berbeda. Ia pun melihat meski tradisi membacanya berbeda dan ritualnya berbeda, namun semangat “kacipratan barakah wali” tetap ditemukan. Bersambung…

(AHG)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...