Julian Patrick Millie, MA, PhD: Tasawuf Dalam Perspektif Antropologi (2)

Tasikmalaya – Pusat Kajian Tasawuf ASEAN bersama Pascasarjana IAILM (Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah) PP Suryalaya, Senin (21/11) menyelenggarakan Seminar Internasional dengan judul “Sufism in Anthropogical Perspective.” Seminar dengan nara sumber Julian Patrick Millie, MA, PhD dari Monash University ini dihelat di Aula Mini Tarminah Bakti, kampus IAILM PP Suryalaya, Tasikmalaya.

Acara yang dibuka oleh Rektor IAILM terpilih, Dr. H. Iwan Prawiranata, PhD ini dihadiri lebih dari 100 peserta yang terdiri dari Dosen, Mahasiswa S1, Mahasiswa S2 dan peminat diskusi. Berlaku sebagai moderator, Direktur Pascasarjana IAILM, Dr. Ajid Thohir, MA.

Berikut ringkasan yang disajikan oleh Drs. Asep Haerul Gani,

2. Dua Wajah Tasawuf

Julian mengungkapkan ada 2 wajah Tasawuf, (a) Tasawuf dengan Organisasi Tarekat yang mempunyai struktur, organisasi, ajaran dan amalan serta latihan yang ketat, dan (b) Tasawuf tanpa Organisasi Tarekat yang memperkenalkan konsep-konsep tasawuf dengan cara yang ringan, tanpa amalan dan latihan.

Ia menguraikan temuan James Bourk & James Housterey yang tertuang dalam buku “Rebranding Islam: Piety, Prosperity, and a Self-Help Guru”. Ia mengungkap fenomena Aa Gym dengan Darut Tauhid-nya yang kerap menyampaikan uraian berpatokan pada Kitab Al Hikam karya Ibnu Ath Thailah as-Sukandari.

Dalam diskusi antara Ajid Thohir dengan Julian terungkap, buku Al Hikam mulai ramai diperbincangkan secara serius di Indonesia baru dalam dua dekade terakhir. Sebelumnya hanya dibahas di sejumlah pesantren. Buku tersebut menjadi lebih dikenal ketika dibahas secara oleh KH Abdullah Gymnastiar di Pontren Darut Tauhid, dan Alm. KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab di Pontren Azzainiyyah, Nagrog Sukabumi.

Kitab Al Hikam menurut Julian adalah kitab “polos” yang memungkinkan siapapun pembaca bebas untuk mengambil makna sesuai dengan kemampuannya. Ajid Thohir lalu mengomentari bahwa ada ragam kitab tasawuf. Ada kitab tasawuf yang dibuat oleh sufi untuk pembaca awam, ada pula yang untuk pembaca khusus dan perlu diajarkan dengan cara khusus.

Di luar acara Seminar, dalam diskusi santai bersama Dr. Asep Salahudin MA di kantor Pascasarjana IAILM, Julian yang penganut Katolik menceritakan bahwa dalam tradisi Katolik, kewalian (santo dan santa) dari seorang tokoh ditetapkan oleh gereja melalui dewan khusus. Dewan khusus menguji sejumlah kesaksian, dan melakukan ujian pembuktian terhadap santo atau santa yang diajukan. Bila memenuhi syarat, maka gereja menetapkan secara resmi sebagai santo atau santa. Selesai.

(AHG)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...