Kajian Spiritualitas: “Peningkatan Spiritualitas”

Spiritualitas berasal dari bahasa Inggris, yaitu spirituality. Akar kata dari spirituality adalah spirit. Spirit bisa berarti jiwa, bisa juga berarti immaterial (sesuatu yang non materi). Adapun spiritualitas, ia berarti berhubungan dengan Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta, tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu. Spirit juga bisa berarti murni. Murni dalam bahasa Arab adalah ikhlas.

Maka, spiritualitas kerja adalah jiwa, makna, motif dalam suatu pekerjaan. Spirit juga bisa berarti murni. Murni dalam bahasa Arab adalah ikhlas. Maka, orang yang bekerja spiritual adalah orang yang ikhlas dalam bekerja. Kemurnian seseorang ada pada fitrahnya. Dan fitrah manusia adalah memiliki kerinduan kepada Tuhan, ingin dekat dengan Tuhan.

Manusia yang memiliki paradigma spiritualistik memahami bahwa kehidupan manusia tidak hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi, namun manusia adalah mahluk spiritual atau manusia ruhaniah. Akan ada kehidupan selain di bumi sekarang ini. Allah mengingatkan bahwa manusia bukan hanya tubuh, tetapi juga ruh. Sebagaimana Allah swt. ingatkan dalam ayat-Nya berikut ini:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS Al-Insaan, 76:1)

Manusia yang memiliki paradigma spiritualistik juga memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan ketetapan dari Allah swt. karenanya kehidupan ini harus disyukuri. Cobaan, kekurangan dan penderitaan disikapi dengan sabar dan dengan ketabahan serta memulangkan segalanya kepada Allah swt. Karena segala sesuatu memang milik-Nya, termasuk dirinya sendiri. Penganut paradigm spiritualistik ini memandang kehidupannya di dunia mempengaruhi kehidupannya di akhirat (holistik). Segala sesuatu yang dilakukan di dunia dilihat, diketahui dan dinilai oleh Allah swt. yang akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Maka, dengan paradigma ini manusia tidak akan terkena stres, hidup menjadi tentram yang tentu sangat berpengaruh kepada kualitas dirinya dan ia selalu mendatangkan kebijakan yang bersumber dari kesucian (virtus ex sanctus).

Lalu, samakah spiritualitas dengan relijiusitas? Relijiusitas dan spiritualitas adalah dua hal yang berbeda.

Relijiusitas terpaku pada simbol-simbol keagamaan dan praktik-praktik ritual keagamaan, sedangkan spritualitas merupakan inti dari keagamaan itu sendiri, yaitu keterhubungan seseorang dengan Allah swt. yang berdampak kepada akhlak. Idealnya, seorang yang relijius adalah seorang yang spiritualistik. Namun pada kenyataannya sering kita saksikan relijiusitas seseorang tidak sama dengan spiritualitasnya.

Contoh seorang yang relijius yang tidak spiritualitistik pada saat shiyam atau puasa di bulan Ramadhan sebagai berikut: Secara istilah fiqih, syariat atau religi, shiyam atau shaum berarti menahan diri makan, minum dan berhubungan badan sepanjang hari dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu, sehat, dan suci dari haid dan nifas bagi seorang muslimah. Sebatas ini saja pengertian shiyam secara syari’at atau religi. Maka secara syari’at, tidak batal shiyamnya jika memiliki sifat hasad dan dengki, berprasangka buruk terhadap qadar dan qadha Allah swt.; tidak merasa hidup diawasi Allah swt. sehingga tidak amanah atau khianat, melakukan pemborosan, merusak lingkungan, dan lain-lain. Maka tidak heran setelah Ramadhan, umat Islam di Indonesia masih saja banyak yang memiliki akhlak yang buruk.

Akhir kalam, shiyam Ramadhan seharusnya dapat menjadi bulan pendidikan kaum muslimin untuk meningkatkan spiritualitasnya, bukan sebagai pelaksanaan ritual proseduralnya saja. Spiritualitas yang tinggi tentu terkait dengan ketinggian akhlak. Semoga kita semua dapat melaksanakan shiyam Ramadhan sebagai seorang yang relijius dan spiritualis sehingga menjadi orang yang bertaqwa. Aamiin.

Rekomendasi
Komentar
Loading...