Kenapa Lailatul Qadar Dirahasiakan?

Dalam Kitab Ghunyatut Thalibin karya Sayyid As Syarif Syekh Abdul Qadir Al Jilani disebutkan bahwa Allah menyembunyikan lima hal di dalam yang lima.

Pertama, Allah Swt menyembunyikan ridha-Nya di dalam ketaatan. Kedua, menyembunyikan murka-Nya dalam kemaksiatan. Ketiga, menyembunyikan shalat wustha di antara shalat-shalat. Keempat, menyembunyikan wali-Nya di antara makhluk-Nya. Dan kelima, menyembunyikan Lailatul Qadar di dalam bulan Ramadhan.

Lailatul Qadar sengaja disembunyikan dari hamba-Nya tidak seperti malam Jum’at lantaran ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik.

Disembunyikannya Lailatul Qadar sehingga tidak diketahui secara pasti, agar seseorang tidak bergantung atau bersandar pada amalannya di malam Lailatul Qadar.

Karena jika seseorang sudah tahu keberadaan Lailatul Qadar lalu dia beramal di malam itu, kemudian ia merasa dengan amalannya itu diampuni Allah hingga mendapatkan derajat yang tinggi dan surga. Maka dia jadi tergantung dengan amalannya itu yang justru bisa membinasakannya.

Sama halnya ketika seseorang mengetahui bahwa usianya akan panjang. Maka dia akan turuti semua syahwat dan memenuhi aneka kenikmatan lahiriah duniawi dan terkubang dalam kemaksiatan. Baru ketika ajalnya sudah dekat, ia akan bertobat dan menyibukkan diri dengan aneka ibadah, dan mati dalam keadaan bertobat dan memperbaiki diri.

Itu sebabnya secara umum, Allah merahasiakan ajal manusia. Agar manusia senantiasa khawatir dan menaruh perhatian akan datangnya ajal, selalu waspada serta berhati-hati.

Dari situlah kemudian, ia akan terus memperbaiki amal, senantiasa bertobat dan memperbagus catatan harian. Sehingga ketika datang ajal, ia dalam keadaan yang baik, selamat dari azab Allah di akhirat berkat Rahmat Allah Swt.

Dengan demikian hikmah dari tersembunyinya Lailatul Qadar ialah demi kebaikan manusia itu sendiri dan merupakan kasih sayang Allah Swt kepada hamba-Nya.

Kendati demikian Nabi memberi kisi-kisi kapan Lailatul Qadar itu datang.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatul Qadar di sepuluh terakhir Ramadhan (HR. Muslim).

Sehingga Nabi Saw contohkan dengan beri’tikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Pada masa itu kita bisa mencari dengan tekad dan kesungguhan hidangan Allah Swt berupa kebaikan yang lebih baik dari seribu bulan.

Rekomendasi
Komentar
Loading...