Keseragaman Hidup di Bawah 360 Anak Tangga Kampung Naga

Keseragaman Hidup di Bawah 360 Anak Tangga Kampung Naga

Kampung Naga berada diantara Tasikmalaya – Garut, Desa Neglasari; Salawu; Tasikmalaya. Tidaklah sulit menemukan perkampungan yang masih menjunjung tinggi adat setempat ini. Selintas akan tersembul pertanyaan, apakah Kampung Naga itu? Daya tarik desa itu terbukti setelah kami mengunjunginya. Dan daya tarik itu sama sekali tidak berhubungan dengan legenda atau kejanggalan lainnya yang sempat memenuhi isi kepala kami sebelum tiba di sana.

Kami tiba pukul 15.00 wib, dan langsung mendekati sebuah warung tempat beberapa pria setengah baya mengenakan blangkon sedang duduk-duduk. Kami membaca peraturan yang dipajang di luar warung, bahwa jika akan masuk ke Kampung Naga diwajibkan ditemani seorang pemandu (tanpa ditulis tarifnya). Kami lalu menggunakan jasa Pak Sarya yang warga asli Kampung Naga sebagai pemandu kami.

Sedari tadi, kami sudah menahan rasa penasaran akan arti nama Kampung Naga, dan langsung menanyakannya. Pak Sarya menjelaskan sambil tersenyum bahwa jalan menuju kampung ini menyerupai ular besar, berkelok-kelok, nagawir dalam bahasa Sunda, yang berarti di tepi tebing. Tidak ada hal-hal menyeramkan dibalik makna nama tersebut. Kami diarahkan ke jalan yang masih bertanah, supaya dapat mengambil gambar di bawah dengan lebih indah. Lalu kami menuruni jalan itu dengan perlahan, karena tanah yang licin dan jalan menurun.

“Jangan memegang bambu atau ranting pohon,” bergitu Pak Sarya memperingatkan kami. Memang di Kampung Naga ini banyak peraturan adat yang ditetapkan oleh nenek moyang mereka, dan harus ditaati. Di situlah keistimewaan kampung itu. Setelah berhasil turun, kami masih harus melewati sungai kecil yang dijembatani tiga batang bambu!!

Penduduk Kampung Naga menganut agama Islam yang dikombinasikan dengan adat turun temurun dari nenek moyang mereka. Keberadaan Kampung Naga, diyakini Pak Sarya dan penduduk lainnya di sana, berdasarkan cerita dari nenek-nenek mereka, adalah sebelum Islam masuk ke Indonesia. Namun baru dibangun kembali pada kurang lebih tahun 1962, setelah kejadian DI/TII yang membakar habis kampung mereka. Sekarang dan yang akan datang, bangunan rumah di sana hanya boleh berjumlah 110 bangunan, sedangkan saat ini jumlah penduduk 312 jiwa.

Mereka taat pada peraturan pemerintah, bahwa masksimal hanya memiliki tiga anak. Mereka mayoritas bekerja sebagai petani dan sebagian lainnya beternak ikan. Keadaan tanah di kampung ini memang tergolong sangat subur, dengan tekstur tanah yang miring, dibatasi sungai, dan diapit bukti-bukti yang lumayan terjal. Utamanya mereka menanam padi, lalu jagung, sayur-sayuran, dan apotik hidup (wajar saja, karena mereka tidak mengenal dokter). Ternak ikan di kolam-kolam belakang rumah penduduk berisikan lele, gurame, dan ikan mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *