Keseragaman Hidup di Bawah 360 Anak Tangga Kampung Naga

Keunikan awal yang sudah saya sadari saat berdiri di atas tanah licin, di awal perjalanan menuju perkampungan itu adalah bentuk rumah yang semua sama; beratapkan ijuk yang terbuat dari pohon aren, dengan papan bercat putih, dan menghadap ke arah kiblat, dari atas ke bawah, sehingga dari kejauhan tampak seperti barisan jamur. Bertambah lagi keunikan desa itu, setelah Pak Sarya menjelaskan, bahwa komposisi ruang di semua rumah itu, sama semua: 1 ruang tamu, 1 ruang tengah, 1 dapur, dan 1 kamar tidur, dan 1 tempat penyimpanan padi.

Saat kami masuk ke rumah Pak Sarya, terdapat padi yang telah berusia 20 tahun! Sementara padi di dalam lumbung tersebut, bisa untuk makan 2 tahun. Untuk mandi dan keperluan ke belakang lainnya, tersedia MCK yang sangat sederhana. Mereka menganut sistem persamaan, guna menjauhkan sifat iri antar manusia. Wow!! Di zaman yang serba modern ini, saya mendengar bentuk kesederhanaan yang logis. Salah satu bentuk kesederhanaan lain yang terlihat jelas adalah mereka tidak memakai listrik dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kami beristirahat sejenak di sebuah bangunan yang agak beda bentuknya, bangunan itu adalah balai desa, yang digunakan untuk pertemuan. Selain itu, di malam hari, para pemuda yang berumur 15 tahun ke atas dan belum menikah, bersama-sama tidur di balai itu

Di sebelah balai desa ada bangunan lain, yaitu masjid warga. Bedug di sana bukan hanya digunakan untuk menabuhkan adzan, tetapi juga untuk mengumpulkan warga bila diperlukan.

Kepengurusan kampung terdiri atas: Kepala Adat disebut kuncen; Lebeh yang bertugas mengurus jenazah,dan Punduh yang memiliki tugas memberikan pengayoman terhadap masyarakat kampung.

Kami kembali beranjak ke kampung setelah bergaul beberapa saat dengan warga sekitar juga beberapa anak kecil dengan permainan sederhana mereka. Hati kami terasa miris saat mengetahui bahwa anak-anak tersebut bersekolah maksimal hanya sampai Sekolah Dasar. Menguatkan hati untuk mengabaikan nasib anak-anak itu, kami berlalu.

Di depan kami telah menunggu 360 anak tangga yang curam untuk kami naiki. Tangga tersebut sudah bersemen, hasil kerja mahasiswa UGM di tahun 1987. Pada tangga yang ke-200 saya terduduk, mengambil nafas, dan menyempatkan diri menatap kembali perkampungan, kesederhanaan, dan keragaman itu. Lalu…yaaa masih 160 anak tangga lagi. (Ans)

Rekomendasi
Komentar
Loading...