Ketika Seorang Sufi Berbisnis

Apakah seorang sufi boleh berbisnis? Ini pertanyaan umum kebanyakan orang yang akan memasuki dunia tasawuf atau tarekat.

Tasawuf atau tarekat dianggap sebagai jalan untuk menjauhi dunia, sehingga pertanyaan itu mungkin dirasa perlu diajukan.

Sufi kerap dibayangkan sebagai seorang yang berpenampilan sederhana, bahkan cenderung apa adanya. Orang yang selalu berpikir tentang akhirat dan mengambil jarak sejauh-jauhnya dengan kehidupan dunia.

Apakah benar demikian?

Nah, barangkali jawaban sufi asal Srilanka yang menghabiskan hidupnya dan mengajarkan ajarannya di Amerika Serikat, Bawa Muhaiyaddeen, ini bisa sedikit memberikan pencerahan. Terutama bagi anak-anak muda yang mau masuk ke dunia tarekat tapi takut menjauh dari dunia.

Artikel Terkait: Ketum LDTQN: Sesuaikan Program Di Era Pandemi Covid-19

Berikut catatan-catatannya dalam artikel “A Sufi Perspective on Business” yang dipublikasikan Bawa Muhaiyaddeen Fellowship (BMF).

Benarkah bisnis itu menyakiti orang lain?

Masih ada orang yang berpikiran bahwa dunia bisnis itu cenderung “kotor”. Bisnis itu menyakiti orang lain. Bisnis itu memperbudak orang-orang dengan hartanya.

Bawa Muhaiyaddeen pun bertanya, bukankah segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah bisnis pada dasarnya.

Petani melakukan bisnis. Penceramah, para imam atau para pemimpin agama pun berbisnis. Para dokter mengutip biaya dari para pasiennya.

“Coba tunjukkan padaku seseorang yang tidak berbisnis di dunia ini. Selama kita memerlukan sandang, pangan dan papan, kita melakukan suatu bisnis,” katanya.

Hanya orang-orang yang lalai dan bodoh yang dalam urusan bisnisnya menyakiti orang lain dan diperbudak oleh hartanya.

Orang yang bijak, melalui hikmah dan rahmat-Nya, akan memperoleh hasil yang cukup dari bisnis bagi diri dan keluarganya. Mereka justru memiliki kendali pada dunia ini.

Artikel Terkait: Ramadhan Bulan Pendidikan Karakter

Jangan berpikir berhenti dari bisnis

Menjadi sufi, jangan pernah berpikir berhenti dari bisnis, justru harus terus belajar untuk berbisnis dengan baik dan penuh kebijaksanaan.

Orang yang mampu menjalani kehidupan di dunia ini tanpa menjadikan dunia itu hidup di dalam dirinya, adalah karakter seorang sufi.

“Bukankah sangat mudah memperoleh keuntungan yang banyak dari menipu pelanggan, memotong gaji karyawan, memaksa mereka bekerja dua kali lebih keras, atau memperbudak mereka?” tanya Muhaiyaddeen.

Tentu saja amat mudah. Tapi seorang sufi pasti tidak akan melakukan itu. Mereka tahu hak dan kewajibannya. Tahu bagaimana memenuhi pekerjaannya, memenuhi hak karyawannya, serta memberikan harga yang pantas untuk para pelanggannya.

Menjalankan bisnis dengan cinta, keadilan dan kebijaksanaan

Tanpa bisnis tentu seseorang tak bisa memperoleh kebutuhan sandang, pangan, dan kebutuhan hidup lainnya.

Sejatinya apabila bisnis dijalankan dengan cinta, keadilan, kebijaksanaan, profesionalitas, serta keimanan kepada Tuhan semata, bukan pada dunia, maka bisnis akan berujung kesuksesan di dunia maupun di akhirat.

“Dengan demikian, bisnis akan menjadi rahmat yang besar bagi seluruh umat manusia,” kata Muhaiyaddeen.

Artikel Terkait: 3 Cara Silaturahmi Saat Kamu Tidak Bisa Mudik

Jadilah yang Terdepan

Bahkan sang sufi itu berpesan, “Jadilah yang pertama dan terdepan di bidang bisnis yang engkau geluti, jalani dengan cinta dan keadilan. Jika engkau melakukannya demikian, maka itu akan menguntungkan bagimu dan semua orang. Jangan malas. Belajarlah dengan benar.”

Ia juga menegaskan, seorang sufi justru harus lebih bisa bersaing dibandingkan mereka yang bisnisnya hanya untuk memenuhi nafsu dan keserakahannya. Tujuannya, agar para sufi memiliki kendali terhadap mereka serta mampu menahan mereka agar tidak menyakiti diri mereka sendiri dan orang lain.

Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen wafat di Philadelphia Amerika Serikat tanggal 8 Desember 1986. Ia merupakan seorang sufi asal Sri Lanka yang datang ke Amerika Serikat pada 11 Oktober 1971.

Berdasarkan kisah para muridnya, Bawa Muhaiyaddeen pernah tinggal di hutan hingga tahun 1940-an. Setelah itu, ia banyak menghabiskan waktu di sebuah langgar bernama Kataragama di Selatan Sri Lanka serta di kuil Al-Jilani yang didedikasikan untuk Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Murid-muridnya berasal dari berbagai latar belakang dan agama.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...