Keutamaan I’tikaf di Sepertiga Terakhir Ramadhan

Salah satu aktivitas Nabi Muhammad Saw tatkala memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadhan ialah beri’tikaf.

I’tikaf artinya berdiam diri di masjid dengan niat taqarrub ila Allah (mendekatkan diri pada Allah Swt) misalnya dengan shalat, dzikir, tafakkur dan membaca Al Qur’an.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah Ra bahwa Nabi Saw melaksanakan i’tikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadhan hingga wafat, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau. (HR. Bukhari).

Banyak sekali keutamaan i’tikaf, sehingga menjadi suluk dari generasi sahabat hingga generasi masa kini terutama di sepertiga terakhir bulan Ramadhan.

Pertama, orang yang beri’tikaf sejatinya juga tengah menunggu waktu shalat yang akan mendapatkan keutamaan didoakan malaikat.

الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي صَلَّى فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ ؛ تَقُولُ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

Malaikat mendoakan salah seorang di antara kamu selama masih berada di tempat yang dipakai untuk shalat selama belum berhadas (menunggu waktu shalat). Malaikat berdoa, Ya Allah ampunilah dosanya, Ya Allah sayangilah dia. (HR. Bukhari).

Kedua, orang yang beri’tikaf dan menghidupkan malam Lailatul Qadar berpotensi mendapatkan ampunan Allah Swt dan keutamaan Lailatul Qadar.

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar karena iman dan ikhlas mengharap ganjaran Allah Swt, diampuni dosanya yang telah lewat (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, memperbarui iman. Dengan beri’tikaf kamu bisa memperbanyak dzikir kalimat tauhid yang berguna untuk memperbarui iman (tajdidul iman).

جددوا إيمانكم قيل: يا رسول الله كيف نجدد إيماننا؟ قال: أكثروا من قول لا إله إلا الله

Nabi bersabda: Perbaruilah imanmu. Dikatakan, wahai Rasulullah bagaimana cara kami memperbarui iman kami?. Nabi menjawab: perbanyak ucapan Laa ilaaha illa Allah. (HR. Ahmad).

Keempat, mendapatkan derajat kemuliaan dengan memperbanyak dzikrullah ketika beri’tikaf.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْعِبَادِ أَفْضَلُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ؟ قَالَ : ” الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ

Rasul Saw ditanya, siapa hamba Allah yang derajatnya paling utama di sisi Allah pada hari kiamat? Nabi menjawab: mereka yang banyak mengingat dan menyebut Allah Swt. (HR. Tirmidzi).

Kelima, mendapatkan rahmat Allah. Tatkala berkumpul untuk membaca ayat Allah dan mempelajarinya.

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ ؛ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.

Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah membaca kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, diliputi rahmat, dinanungi malaikat serta mereka akan diingat di sisi Allah. (HR. Muslim).

Keutamaan-I'tikaf
Dan masih banyak lagi keutamaan i’tikaf, seperti terjaga dari perbuatan maksiat. Lebih mudah shalat berjamaah, menghidupkan sunah nabi Saw, mengikis kecintaan yang berlebihan kepada dunia.

Kemudian, keutamaan lainnya ialah berpotensi dianugerahi Allah dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan. I’tikaf juga bisa berfungsi untuk mendidik jiwa agar lebih sabar, lebih banyak melakukan introspeksi diri, serta melekatkan masjid di qalbu

Rasulullah Saw bahkan mengajak keluarganya untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.

Dari Aisyah ra, beliau berkata: “Nabi ketika memasuki sepuluh hari terakhir ‘mengencangkan sarungnya’, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR al-Bukhari).

Rekomendasi
Komentar
Loading...