KH Lutfi Fathullah: Ulama Hadis Yang Melek Digital

Sebagai seorang ulama yang tekun dalam hadis, peninggalan Dr. KH. Lutfi Fathullah, MA bisa dibilang tidak lazim. Di saat para ulama meninggalkan karya berupa buku, Kiai Lutfi justru meninggalkan karya berbentuk digital.

Diawali dengan mendirikan Pusat Kajian Hadis pada tahun 2008, lulusan Damascus University tersebut melihat bahwa sebagai seorang pelajar, terlebih pengajar, apalagi ulama, perpustakaan merupakan kekayaan yang mutlak dimiliki.

Terasa aneh jika seorang yang “katanya” ulama namun hanya memiliki puluhan kitab saja. Demikian juga dengan kampus atau pun pesantren, sangat aneh jika miskin dengan referensi. Perpustakaannya hanya mengoleksi puluhan atau beberatus kitab saja. Keanehan itu bisa dibilang menjadi pemandangan lumrah di mayoritas kampus Islam dan Pesantren di tanah air.

Berangkat dari keprihatinannya itu, murid dari Syekh Wahbah Az Zuhaily tersebut bertekad membuat terobosan bagaimana caranya menjawab kebutuhan umat wabil khusus para ulamanya, akan referensi yang standar dan semaksimal mungkin.

Lulusan Magister Jordan University tersebut kemudian membuat apa yang dinamakan dengan Perpustakaan Islam Digital. Menghimpun tidak kurang dari 3000 judul kitab klasik dan kontemporer dari berbagai bidang disiplin ilmu keislaman yang mencapai 6000 jilid lebih.

Dari sejak kuliah, cucu dari Guru Mughni tersebut memang termasuk ulama melek teknologi dan senang dengan dunia digital.

Di antara karya digital Kiai Luthfi melalui Pusat Kajian Hadis ialah Al Qur’an Al Hadi (Tematik Al Qur’an), Potret Pribadi dan Kehidupan Rasulullah Saw (Tematik Hadis dan Sirah Rasulullah Saw), Selangkah Lagi Anda Masuk Surga (Kajian Tematis Riyadhus Shalihin), Satu Hari Satu Hadis (Hadis Tematik Harian), 40 Kumpulan Ayat Populer, 40 Hadis Mudah Dihafal (Sanad dan Matan Riwayat Bukhari), Membuka Pintu Rezeki Melalui Wirid Pagi dan Petang dan lainnya.

Menariknya, aplikasi-aplikasi tersebut sudah diwakafkan sehingga bisa diunduh secara gratis melalui Google Play Store atau pun Apps Store.

Pusat Kajian Hadis (PKH) yang dipimpinnya memiliki visi; Menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber ajaran Islam yang harus tetap dijaga dan dipertahankan.

Doktoral lulusan University Kebangsaan Malaysia itu berjuang untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dengan memperkuat kajian dua sumber ajaran, yaitu al-Qur’an dan Hadis.

Bisa dibilang, di kala menjamurnya Rumah Tahfidz dan atau pun Rumah Pesantren Al Qur’an, serta minimnya pelajar yang berminat pada kajian hadis. Apa yang beliau lakukan merupakan langkah seorang ulama untuk melakukan penyeimbangan di tengah langkanya lembaga kajian hadis di tanah air.

Itu sebabnya Pusat Kajian Hadis juga memfasilitasi kebutuhan penelitian hadis, serta konsen untuk menyebarluaskan ilmu-ilmu yang bersumber al-Qur’an dan hadis melalui media yang relevan.

Bukan hanya itu, Kiai Lutfi juga mendirikan Pesantren Pusat Kajian Hadis di Cinagara, Bogor. Menjadi inkubator dan bagi lahirnya kajian hadis berbasis digital. Dengan melakukan pembinaan dan pendampingan bagi mahasiswa atau kalangan umum dalam membuat aplikasi kajian hadis.

Seperti aplikasi 40 Hadis Qudsi oleh IAIN Samarinda, Riyadhus Shalihat: Aplikasi Hadis Wanita Shalihah oleh IAIN Kudus, 40 Hadis tentang Sifat-sifat Allah oleh IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Shalat Sunnah Yuk dan Menuju Keluarga Sakinah Mawadah wa Rahmah oleh UIN Sunan Kalijaga, 40 Hadis tentang Nikah oleh UIN Banten, 40 Hadis Sunnah Yang Terabaikan oleh UIN Raden Fatah Palembang, dan masih banyak lagi. Ketik saja Pesantren PKH di Google Play Store atau Apps Store untuk mendownloadnya secara gratis.

Langkah yang dilakukan pakar hadis serta dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia ini merupakan langkah terobosan yang luar biasa untuk membumikan hadis di era digital. Semoga warisan dan semangat ulama Betawi ini bisa dilanjutkan oleh generasi selanjutnya berkhidmah pada Rasulullah Saw, lahul fatihah.

Rekomendasi
Komentar
Loading...