KH Wahfiudin: Dua Tantangan Umat Manusia, Ekonomi dan Politik

Jakarta – Dalam seminar Wacana Keharmonian Islam Nusantara 2017 di Sabah, Malaysia pada Sabtu 13 Mei 2017, KH. Wahfiudin Sakam, menjadi salah satu pembicara. Kegiatan yang dihelat di Hotel Tabung Haji di Kinabalu ini dihadiri sekitar 300 ulama dari berbagai negeri, antara lain; Malaysia, Indonesia, Singapura, Filipina dan Kamboja.

Seminar ini dibuka oleh YBhg. Datuk H. Ab. Jamal bin Tun Datuk Seri Panglima H. Sakaran, Pesuruhjaya Majelis Dakwah Negara Cawangan Sabah.

Pembantu Menteri kepada Ketua Menteri Sabah, YB Datuk Haji Mohd Arifin Mohd Arif berharap para pendakwah yang hadir ke Sabah dapat memahami kondisi negeri yang akan dikunjungi dengan baik. “Siapa-siapa yang ingin berdakwah, nilai-nilai fiqh Sabah ini harus kita jadikan landasan.” ujarnya.

Selanjutnya ia berharap, masyarakat di Sabah dapat menjalin pergaulan dengan baik kepada masyarakat lainnya yang berbeda kelompok agama. “Fiqh Sabah juga sangat penting untuk dijadikan garis panduan bagi para pendakwah. Semoga kegiatan ini dapat terus dilanjutkan untuk meningkatkan hubungan baik dengan lembaga-lembaga Islam di nusantara,” kata ia.Sementara itu, KH. Wahfiudin Sakam dalam paparannya menyampaikan pentingnya umat Islam memahami geopolitik. “Mengapa kita harus bicara tentang geopolotik? Karena antara agama, dakwah dengan ekonomi dan politik tidak boleh dipisahkan,” ujar pengurus Lembaga Dakwah PBNU ini.

Menurutnya, problem manusia dari dulu hingga saat ini, yang paling mendasar adalah Scarcity dan insecurity. Scarcity adalah merasa kekurangan, seperti makanan, kesehatan, kesejahteraan. Maka manusia melakukan upaya untuk memenuhi kekurangannya dengan produksi dan dagang. Inilah yang disebut upaya freedom from wants.

Insecurity adalah keinginan mendapatkan jaminan keamanan. “Maka sedari dulu manusia hidup berkelompok. Tidak jarang antar kelompok pun terlibat perang. Inilah yang disebut upaya freedom from fears,” kata wakil talqin TQN Suryalaya ini.

KH Wahfiudin melanjutkan, di surat al – Qurasiy Allah SWT memberikan kabar. Perhatikanlah kebiasaan orang-orang Quraisy. Mereka melakukan perjalanan di musim dingin dan panas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan politik.”Tetapi Allah SWT juga menyeru manusia untuk menegakkan ibadah. Karena tak ada guna rihlah tersebut jika tanpa diiringi dengan ibadah. Inilah gambaran antara agama dengan ekonomi dan politik tidak dapat dipisah.” tegas Ia.

Seminar ini juga dihadiri oleh Syeikh Rohimuddin Nawawi Jahari Al-Bantani dari Kekeluargaan Ulama Nusantara; Dr. Yusri bin Mohamad dari Yayasan Dakwah Islamiyah Malaysia; Dr. Mohamed Ali, Assistant Professor di Nanyang Technologi University Singapore; Syeikh Dr. Mohammad Diyauddin Kushwandi dari UIN Surabaya; serta YBhg. S.S. Datuk Ustaz Haji Bongsu, Mufti Kerajaan Negeri Sabah. (Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...