Khalwat Batin Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jilani

Jika esensi dari khalwat zahir ialah upaya secara lahiriah untuk memelihara diri dari berbuat maksiat dan melindungi orang lain dari keburukan diri, maka khalwat batin adalah berupaya tidak memasukkan pikiran-pikiran hawa nafsu dan setan (at tafakkurat an nafsaniyah wa as syaithaniyah) ke dalam qalbu.

Pikiran hawa nafsu dan setan itu digambarkan oleh Syekh Abdul Qadir Al Jilani seperti kecintaan pada makanan dan minuman, kecintaan pada keluarga dan kerabat, kecintaan pada hewan-hewan seperti kuda dan lain sebagainya. Juga termasuk di dalamnya ialah riya’ (pamer), sum’ah (senang pujian) dan syuhrah (popularitas).

Khalwat batin juga berarti berusaha tidak memasukkan secara sengaja semisal kesombongan, ujub, bakhil dan sifat-sifat tercela lainnya.

Karena jika salah satu sifat tercela tadi masuk ke dalam qalbu, maka rusaklah khalwat dan qalbunya. Serta rusak pula amal-amal salih dan kebaikan lantaran rusaknya qalbu. Maka tinggal lah qalbu itu tiada manfaat. Sebagaimana Allah Swt berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِيْنَ

Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan. (Yunus: 81).

Dengan demikian, siapa saja yang di dalam qalbunya terdapat sifat-sifat yang merusak itu, maka ia termasuk orang-orang yang membuat kerusakan (mufsidin), meskipun secara lahir ia tampak salih.

Syekh Abdul Qadir menegaskan bahwa tujuan awal dari tasawuf ialah penyucian qalbu dan mencabut hawa nafsu dari akarnya melalui khalwat, riyadhah (latihan), diam, dan melazimkan dzikir yang disertai dengan iradah, mahabbah, ikhlas, tobat, i’tikad yang sahih sesuai sunnah Nabi serta mengikuti tradisi salafus salih dari kalangan sahabat, dan tabi’in, para masayikh serta ulama.

Khalwat Itu Landasannya Al Qur’an

Khalwat zahir maupun batin yang diterangkan oleh pimpinan para Auliya itu sejatinya mengamalkan apa yang diperintahkan oleh al Qur’an, di mana Allah berfirman:

وَذَرُوْا ظَاهِرَ الْاِثْمِ وَبَاطِنَهٗ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَكْسِبُوْنَ الْاِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوْا يَقْتَرِفُوْنَ

Dan tinggalkanlah dosa yang terlihat ataupun yang tersembunyi. Sungguh, orang-orang yang mengerjakan (perbuatan) dosa kelak akan diberi balasan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. (Al An’am: 120).

Banyak sekali teks hadis yang menggambarkan bahwa kerusakan qalbu menyebabkan kerusakan amal, misalnya beliau Saw bersabda:

الحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ، كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Hasud menghanguskan kebaikan seperti api menghanguskan kayu (HR. Ibnu Majah).

Bahkan rusaknya qalbu oleh kesombongan juga bisa mengantarkan seseorang tidak masuk surga, sebagaimana dilukiskan Rasulullah Saw.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Tidak masuk surga, siapa yang ada di qalbunya kesombongan walaupun hanya sebesar atom (HR. Muslim).

Sehingga substansi dari khalwat batin ini ialah penyucian jiwa dari aneka kotoran dan penyakit qalbu sehingga memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Selain itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis, bahwa Allah tidak melihat penampilan fisik serta material seseorang karena yang Dia lihat adalah qalbu dan amalnya.

Manfaat Khalwat

Al Qur’an pun memuji orang yang berupaya untuk menyucikan dan membersihkan diri dari aneka keburukan lahir batin. Karena siapa yang menyucikan diri akan memperoleh al falah. Falah artinya memperoleh kebaikan dan manfaat dari apa yang didambakannya.

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (Al A’la: 14).

Khalwat-Batin-Menurut-Syekh-Abdul-Qadir-Al-Jilani
Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Bahkan Pendiri Tarekat Qadiriyah ini menjelaskan bahwa jika seseorang berhasil dalam khalwat batin tersebut, maka qalbunya akan luas laksana lautan. Qalbunya tidak berubah oleh sikap buruk manusia.

Artinya qalbunya tidak mudah kecewa, tersinggung, sakit hati atau pun takut dan khawatir. Ia telah berhasil menenggelamkan hawa nafsunya dengan pertolongan Allah Swt.

Khalwat batin ini juga secara tidak langsung digaungkan melalui untaian mutiara Abah Anom yang salama ini dibacakan dalam Manaqib Tuan Syekh Abdul Qadir Al Jilani.

Ulah medal sila upama kapanah (jangan berubah sikap walaupun disakiti orang) dan kudu asih ka jalma nu mikangewa ka maneh (harus menyayangi orang yang membencimu).

Karena untuk mengamalkan untaian mutiara tersebut, diperlukan upaya menenggelamkan hawa nafsu dan membersihkan aneka kotoran dalam qalbu sebagaimana dalam khalwat batin yang diajarkan oleh Tuan Syekh.

Rekomendasi
Komentar
Loading...