Kiai Wahfiudin: Pentingnya Wali Mursyid Dalam Berthariqah

Jakarta – Belum lama ada sebuah video dzikir berjamaah di suatu daerah. Ratusan orang melafalkan kalimat tawhid Lā ilāha illā Allāh. Tidak sedikit jamaah yang hanyut, membuat tubuhnya bergerak hingga di luar batas kewajaran.

Beberapa orang bertanya kepada Kiai Wahfiudin mengenai fenomena tersebut. Berikut penjelasan yang disampaikan oleh Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya dari Jakarta.

“Kalau ada ikhwan TQN yang mengomentari aksi dzikir seperti itu, bukan berarti dia sedang memeriksa murid orang lain. Karena Pangersa Abah juga menekankan kita untuk belajar dan menuntut ilmu agar “Amal Ilmiah – Ilmu Amaliah”.

Video seperti itu perlu diketahui oleh para ikhwan TQN sebagai tambahan ilmu, sekaligus pembuktian, untuk meyakinkan tentang pentingnya wali mursyid dalam berthariqah.

Saya sudah sering menyaksikan hal-hal seperti itu, bahkan saat menyampaikan talqin dzikir di beberapa daerah.

Pendapat saya, hal seperti itu terjadi karena mereka tidak memiliki wali mursyid. Mereka bukan murid dari seseorang mursyid yang wali.

Kalau ada wali mursyid (mursyid yang wali) maka hal-hal yang demikian tidak akan terjadi. Wali mursyid tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi. Mursyid yang wali akan mampu mengendalikan perjalanan ruhani para murid agar tidak terjadi fitnah, meskipun sang wali mursyid sudah mati badaniahnya. Dari alam barzakh, ruh beliau tetap membimbing para murid (bi idznillah).

Selalu ingat prinsip ojo gumunan, dan jangan mencampur-campur ajaran TQN yang sudah diterima dari Pangersa Abah Anom dengan amaliah-amaliah lain.

Ada yang bilang, dalam dzikir ikuti naluri. Naluri itu bagian dari diri.

Menurut KBBI, naluri adalah dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir; pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu; insting.

Bentuk paling dasar dari naluri adalah hawa, maka disebut hawa nafsu (naluri diri). Ibadah yang dilakukan seperti itu berarti fokusnya masih ke diri sendiri (anthropocentric), bukan ke Allah (Allahcentric/Tawhid).

Puncak ketawhidan adalah tawakkul, pasrah, berserah diri dalam keadaan nothingness, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Fana’ Fillaah.

“Permainan spiritualitas” dapat menyebabkan orang terpeleset, tujuannya adalah diri menjadi sakti, kaya tanpa bekerja, berkuasa tanpa ilmu dan masyhur tanpa jujur.”

(KH. Wahfiudin Sakam, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya, Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat).

Rekomendasi
Komentar
Loading...