Kisah Dakwah Kader Dai LDNU di Banjarmasin (1)

Oleh: Muhammad Halabi, Tim Inti Dai Internasional & Media [TIDIM] Lembaga Dakwah NU

TQNNews.com – Pukul 08.00 Wita, Saya dijemput pak Abas dengan sepeda motor. Kurang lebih 1 jam perjalanan darat, tibalah kami di sebuah dermaga kecil, di suatu kampung di Kabupaten Banjar, Sambil menunggu jemputan, saya sempatkan nderes dapat 50 ayat.

Kemudian datanglah klotok; perahu bermesin, yang akan membawa saya ke lokasi acara Isra Mi’raj diadakan yakni Desa Bakambat. Tampak para penjemput sebanyak 5 orang; pak tua berumur sekitar 60 tahun, juru mudi, dan 3 orang panitia. Semua berpakaian bagus, bersih dan sederhana. Wajah mereka kelihatan gembira dan bersemangat.

Perjalanan akan ditempuh sekitar satu jam. Menyusuri sungai Bunipah anak Sungai Barito; sungai terbesar kedua di pulau Kalimantan, setelah sungai Kapuas. Kemudian kami melewati muara sungai Barito yang terhubung langsung dengan laut Jawa dan masuk ke sungai Bakambat, yang sekaligus menjadi nama bagi desa terpencil yang terletak di tepi Laut Jawa.

Desa ini bagian dari kecamatan Aluh-aluh, kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Di perjalanan saya sempat berbincang dengan pak tua yang setia memayungi saya dari pancaran sinar matahari yang cukup terik, sembari menyaksikan kapal-kapal tongkang berisikan ratusan ton batubara yang siap merapat ke kapal perusahaan asing yang menunggu di Laut lepas.

Kata pak tua, acara sudah mulai sejak pukul 7.30 wita dengan membaca Maulid al-Habsyi, yang menjadi tradisi masyarakat Kalimantan Selatan setiap mengadakan peringatan hari besar Islam. Pak tua juga menginformasikan bahwa desa Bakambat yang akan di datangi termasuk desa tertinggal secara perekonomian.

Setelah satu jam, tibalah kami di desa Bakambat. Saya menaiki dermaga kecil yang cukup tinggi dengan tangan yang gemetar hebat, karena sudah tiga tahun ini bagian tubuh sebelah kanan dalam kondisi stroke ringan selalu bereaksi pada saat diperlukan keseimbangan tubuh ketika turun dan menaiki tempat tinggi. Beruntung saya dibantu panitia yang dengan sigap memegang tangan kanan saya.

Dengan perlahan, saya menyusuri jembatan kecil dari kayu-kayu yang bersusun seadanya, karena kalau terpeleset atau tersandung sedikit saja, bisa terjatuh. Saya dipersilahkan ke rumah salah satu warga untuk istirahat sejenak sekedar menunggu panitia mempersiapkan pergantian acara. Terdengar doa penutup maulid sdh dibacakan, tanda pembacaan maulid sudah selesai.

Tuan rumah menyuguhkan minuman dan makanan kecil. Pak Tua yang selalu mendampingi saya berpesan agar dalam ceramah yang akan disampaikan nanti dijelaskan juga mengenai pentingnya sedekah dan infaq supaya masyarakat mendapatkan motivasi untuk memberikan sumbangan pada setiap kegiatan keagamaan yang diadakan di Masjid.

Sekitar 10 menit kemudian kami beranjak ke lokasi acara; sebuah masjid tua yang terletak di tengah permukiman penduduk. Sesampainya di masjid, acara segera dimulai setelah saya dipersilahkan duduk ditempat penceramah. Di masjid telah penuh jamaah laki dan perempuan. Remaja dan dewasa. Rupanya satu kampung hadir semua.

Saya yang lemah ini segera saja kosongkan diri dari merasa tahu, berusaha untuk connect kepada Allah Sang Maha ‘Alim, memohon anugrah dan bimbingan kepadaNya agar hati berisi ilmu dan lisan dapat berucap menyampaikannya, itulah pelajaran yang saya dapatkan dari KH. Wahfiudin — wakil talqin TQN Suryalaya –ketika mengikuti pelatihan kader dakwah yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama. Bersambung…

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...