Kisah Dakwah Kader Dai LDNU di Banjarmasin (2)

Oleh: Muhammad Halabi, Tim Inti Dai Internasional & Media [TIDIM] Lembaga Dakwah NU

Mulailah saya menyampaikan ceramah mengenai Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan pelajaran yang dapat diambil darinya. Salam saya ucapkan, bismillah saya mulakan, hamdalah saya sertakan, kedua kalimah syahadat saya iqrarkan, shalawat dan salam pun saya mohonkan untuk sang pengemban risalah suci; Baginda Nabi Mulia Sayyiduna Muhammad SAW berikut keluarga dan para sahabat serta pengikut jejaknya hingga akhir masa.

Bahasan dalam ceramah yang saya sampaikan adalah sebagai berikut:

  • Maha Suci Engkau, tiada ilmu bagi kami kecuali yang sudah Kau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah Sang Maha ‘Aliim Sang Maha Hakiim.
  • Ya Allah kami meminta pada Mu, demi musyahadah rahasia-rahasia para pecintaMu, dengan pertemuan khusus antaraMu dengan pemimpin semua RasulMu ketika kau isra’ kan dia di hari ke dua puluh tujuh yang mulia, kiranya Kau rahmati sedih dukanya hati kami.
  • Subhana = Maha Suci Allah, sehingga tidak berguna prasangka apa pun terhadap peristiwa isra mi’raj.
  • Alladzi Asra Bi ‘Abdihi = Allah memperjalan Nabi Muhammad SAW secara utuh, dengan jasad dan ruh ke seluruh dimensi, sehingga bisa bertemu dengan ruh-ruh para nabi.
  • Laylan = Waktu malam berasal dari surga yang dipindah ke dunia, sebagai waktu para pecinta mengiba karena taubat dan kerinduan kepada Allah. Berbeda dengan siang yang berasal dari terangnya gejolak Nerraka Jahannam, kini menjadi ajang hiruk pikuk duniawi. Maka di surga tiada lagi gelap dan di neraka tiada lagi terang.
  • Saat Mi’raj, Nabi Muhammad SAW dengan kaum Nabi Musa AS yang menghuni Tanah Perak berkilauan, di balik 70 gunung sesudah Jabal Qaaf (antara langit dan bumi). Mereka bertahmid karena bertemu Nabi Muhammad SAW dan memohon diajarkan Alquran, Sholat dan seluruh Syariat Islam. Kaum itu memiliki keistimewaan; Rumah mereka tak berpintu dan ruangannya sangat luas (melambangkan hati yang ikhlash dan ridho), Masjidnya jauh dari rumah (kesungguhan beribadah), Kuburan selalu berada di halaman rumah (selalu memikirkan nasib sesudah kematian), Tidak pernah sakit (tidak berbuat dosa), dalam setahun hanya satu warga yang wafat (hidup sehat dan panjang umur), wajah murung (takut terhadap siksa dihari kiamat), memungut hasil sawah dan haasil ternah secukupnya (bersift Qona’ah). Itulah para wali; kekasih Allah.
  • Sholat sebagai Hadiah oleh-oleh Nabi Muhammad SAW dan Hidayah Allah SWT, didalam al-Quran selalu berdampingan dengan perintah Zakat, menunjukkan ibadah mahdhah harus disempurnakan dengan ibadah sosial/ muta’adiyah. Disinilah pentingnya infaq dan shodaqoh sebagai padanan perluasan makna zakat, dalam menyempurnakan berbagai ibadah mahdhah. Sebagaimana cerita tentang pecinta nabi yang banyak membaca sholawat namun menolak untuk bersedekah karena sipeminta tidak bisa membuktikan kemiskinannya, maka dalam mimpinya ia ditolak Nabi Muhammad SAW karena nabi menyindirnya dengan menanyakan apa bukti cintanya?

Itulah isi ceramah yang saya sampaikan selama kurang lebih satu jam. Kemudian saya tutup dengan permohonan maaf dan salam. Acara selanjutnya adalah pembacaan tahlil dan doa. Usai acara saya diminta untuk membacakan doa “penerang hati’ pada dua wadah besar berisi telur bebek dan beberapa keranjang besar berisi pisang. Telur dan pisang akan dibagikan kepada jamaah yang menginginkannya dengan mahar lima ribu rupiah sebagai infaq untuk masjid. Jamah pun segera menyerbu telur dan pisang tersebut. Sungguh unik, semoga harapan mereka terkabul karena kerendahan hati dan persangkaan baik, amin.

Kemudian saya bersama beberapa tokoh masyarakat beranjak ke rumah salah satu warga yang berada di dekat masjid untuk makan siang. Usai makan siang dan berbincang sejenak melanjutkan pembicaraan yang tertunda pada saat kedatangan saya, lantaran waktu yang tidak memungkinkan, saya pun berpamitan. Kemudian saya diminta berkunjung ke rumah warga yang lain untuk suatu keperluan.

Sesampainya di rumah warga tersebut, saya disuguhi minuman dan makanan ringan. Beberapa saat kemudian tibalah waktu dzuhur, maka saya mohon izin untuk melaksanakan shalat dzuhur berjamaah dengan pak Abas, mengantar saya dengan sepeda motor saat berangkat dari rumah.

Sesudah shalat dzuhur saya diminta memilihkan nama bayi dan membacakan doa yang kemudian ditiupkan pada air putih sebagai wasilah agar hajat terkabul. Saya kemudian berpamitan untuk pulang, karena perahu yang akan mengantarkan saya pulang sudah disiapkan. Sekitar jam 2.00 wita kami pulang dengan perahu bermesin yang menempuh perjalanan selama satu jam, ketika sampai di dermaga tujuan, kembali menempuh perjalanan darat dengan sepeda motor selama kurang lebih satu jam.

Kemudian tibalah di rumah, tepatnya di belakang terminal induk kota Banjarmasin Jl. A. Yani kilometer 6. Alhamdulillah, selesailah dakwah untuk hari ini sebagai bagian dari belajar mensyukuri bagian tubuh yang sehat yang lebih banyak,dan latihan bersabar atas bagian tubuh yang diberi sakit, dengan berbagi manfaat untuk umat. Selesai.

Rekomendasi
Komentar
Loading...