Kisah H. Ali Penggerak TQN di MUBA

Jakarta – Nama lengkapnya H. Ali Imran. Pria kelahiran Solok 42 tahun lalu ini memiliki segudang pengalaman hidup yang sarat pembelajaran. Anis LH, kontributor TQNNews.com berkesempatan mewawancara pengusaha sukses bidang kuliner dan retail di Sumatera Selatan. Berikut petikan wawancaranya,

TQNN: Bagaimana kisah perjalanan hidup Bapak H. Ali Imran (AI)?

AI: Saya menghabiskan waktu kecil di Solok Sumatera Barat. Selepas SD lanjut ke pesantren selama 6 tahun. Di pesantren saya tergolong anak nakal karena hobi berkelahi. Saya sempat merantau ke daerah Muaro Sijunjung sebelum masuk ke Palembang di tahun 90-an. Di Palembang saya kerja di Rumah Makan Istana Bundo bersama seorang kawan.

Karena saya anak nakal, sering berkelahi. Suatu saat saya terlibat perkelahian membela teman dan mengakibatkan lawan kelahi saya tewas. Walhasil selama 6 tahun menjadi penghuni LP Pakjo Palembang. Di LP saya banyak belajar tentang kehidupan.

TQNN: Lalu apa yang Pak Ali lakukan selepas keluar dari LP?

AI: Optimis! tetap optimis melanjutkan kehidupan. Setelah keluar dari LP saya merantau ke Sungai Lilin. Kembali lagi saya bekerja di sebuah rumah makan, namanya RM Palapa, sebagai tukang cuci piring. Hari-hari saya isi dengan kerja keras. Hasil kerja saya pakai untuk pesta narkoba. Saya termasuk golongan STMJ (Shalat Terus… Maksiat Jalan). Saya tidak bisa lepas dari narkoba saat itu. Disamping itu saya juga gemar mencari guru-guru yang mengajarkan ilmu hikmah.

TQNN: Bagaimana Pak Ali bisa sampai ke Suryalaya?

AI: Suatu saat saya sakau narkoba, 3 hari 3 malam tidak bisa tidur. Saat itu saya ingin sekali untuk shalat taubat. Di Masjid al-Hilal jumpa kawan di pesantren dulu yang juga gemar ilmu hikmah. Ternyata dia sudah berubah. Dulunya nakal seperti saya dan gemar mencari ilmu hikmah. Saat itu ternyata dia sedang belajar tarekat. Waktu itu saya tanya dia, apakah untuk belajar tarekat perlu disuluk? dimandikan? dikubur terlebih dahulu? disuruh puasa? dan lain sebagainya yang menurut saya banyak persyaratan. Yang mencengangkan jawaban dia adalah, tidak! hanya disuruh dzikir saja.

Wah menarik sekali gumam saya dalam hati nurani saat itu. Singkat cerita diajaklah saya ke Suryalaya sekitar tahun 2003 untuk belajar dzikir.

TQNN: Apa yang menyebabkan Pak Ali tertarik untuk belajar dzikir di Suryalaya?

AI: Yang bikin saya tertarik belajar di Suryalaya karena di sana lengkap segalanya. Mulai dari syariat hingga hakikat. Saya dapat menemukan apa yang saya cari selama pengembaraan hidup ini. Apa yang menjadi tujuan hidup yang tidak saya temukan di perguruan-perguruan hikmah yang dulu saya ikuti.

TQNN: Ohya, bagaimana Bapak bisa berhenti mengonsumsi narkoba?

AI: Nah itu yang juga saya bingung. Setelah bertarekat saat itu saya hanya fokus untuk terus dzikir. Tanpa disadari saya tidak memikirkan narkoba sehingga akhirnya bener-bener bersih.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...