Kisah H. Ali Penggerak TQN di MUBA

TQNN: Bisa diceritakan bagaimana akhirnya Bapak memulai usaha rumah makan?

AI: hmmmm (sambil tersenyum dan menerawang). Setelah malang-melintang bekerja di berbagai rumah makan saya punya banyak pengalaman. Saya selalu mencermati bagaimana mengelola rumah makan. Mulai dari tata letak, karyawan, resep masakan, pembukuan hingga pelayanan.

Saya masih ingat pertamakali buka rumah makan sendiri pada tahun 2000. Sebuah warung kaki lima berukuran 4 x 9m, beratapkan daun di atas rawa di Pasar Sungai Lilin. Saya namakan RM Ampera Sederhana (Amanat Penderitaan Rakyat).

Alhamdulillah usaha rumah makan semakin berkembang. Saat ini kami mempunyai 3 RM dan 3 retail Alfamart. Dengan jumlah karyawan 50 orang.

TQNN: Apa rencana pengembangan usaha Bapak kedepannya?

AI: Usaha RM akan terus kami kembangkan. Dengan memilih usaha kuliner, banyak peluang ibadahnya. Kami bisa memberdayakan banyak orang, makanan yang disediakan Insya Allah penuh keberkahan karena di setiap RM adalah tempat dzikrullah.

Saya juga mengajak jamaah yang tertarik untuk sama-sama mengembangkan usaha ini. Mereka yang berminat bergabung menanam saham saya persilahkan. Dengan karyawan kami menerapkan sistem bagi hasil bukan semata gaji bulanan. Karena karyawan juga memiliki saham di usaha RM ini.

Untuk unit usaha retail, kami berencana mengembangkan minimarket dan swalayan ke depannya. Banyak hal yang saya pelajari dari pengelolaan usaha bermitra dengan Alfamart. Insya Allah kami akan kembangkan minimarket dan swalayan sendiri, memberdayakan UKM di Sumsel. Dalam waktu dekat akan kami buka minimarket perdana di daerah Peninggalan.

TQNN: Ohya, Pak Ali selain sibuk menjalankan usaha juga aktif sebagai pengurus YSB PP Suryalaya di MUBA. Bisa diceritakan Pak?

AI: Iya benar. Waktu itu sekitar tahun 2005 kalau tidak salah, kami mengundang Alm. Ajengan Zezen Zaenal Abidin BA ke MUBA untuk acara tabligh akbar. Banyak yang hadir saat itu. Selesai acara, Alm. mendorong agar di MUBA didirikan perwakilan YSB karena memang belum ada. Singkat cerita dipilihlah saya menjadi Ketua YSB PP Suryalaya Perwakilan MUBA. Kami dilantik tahun 2007.

Saya sadar usaha saya bisa maju karena berkah dari guru. Maka saya berniat berkhidmat kepada TQN Suryalaya. Di setiap RM yang saya buka selalu saya jadikan tempat manaqib di lantai atasnya. Karyawan saya dorong untuk belajar dzikir. Alhamdulillah saat ini sudah ada 5 titik manaqib di Perwakilan MUBA. Semoga bisa terus bertambah.

TQNN: Bagaimana dengan keluarga Bapak?

AI: Istri saya orang Kuningan, Jawa Barat, penyabar dan saat ini menjadi ibu dari 3 anak saya. Apapun yang saya lakukkan sepanjang untuk dakwah, dia selalu mendukung. Sering juga terlibat dalam diskusi mengembangkan usaha dan dakwah.

TQNN: Apa filosofi hidup Bapak?

AI: Ada keterkaitan kuat antara bisnis dengan dzikir. Bisnis tidak akan berkah tanpa dzikir dan dzikir tidak akan berkembang maksimal tanpa ditopang dengan bisnis. Satu sama lain dibutuhkan untuk mengembangkan visi dan misi guru mursyid kita untuk mengamalkan mengamankan dan melestarikan ajaran TQN Suryalaya.

Jika ada peluang usaha yang tidak memberikan manfaat dan peluang untuk mengembangkan dzikir saya tidak mau ambil. Karena kita hidup di dunia hanya untuk singgah sementara sebelum menuju alam akhirat. Tentu kita harus berpikir panjang atas apa yang kita lakukan selama di dunia ini.

Jika ada 100 usaha yang didirikan, bisa jadi 100 usaha itu gagal. Namun kita juga perlu 100 kali bangkit. Usaha menurut saya sebatas syariat, bentuk ikhtiar untuk menjemput rezeki dan keberkahan dari Allah SWT. Sukses dan gagal bukan urusan saya. Karena saya banyak mendapat pembelajaran dari kegagalan, bukan dari kesuksesan. (Idn)

Rekomendasi
Komentar
Loading...