Kisah Tabarruk dengan Pangersa Abah Anom

Sebagai muslim kita tentu berkeyakinan bahwa Allah lah sumber segala keberkahan. Beliau lah yang memberkahi segala sesuatu. Sehingga tidak ada berkah yang timbul dari makhluk kecuali berasal dari Allah Swt. Beliau memberkahi siapa dan apa saja yang Dia kehendaki.

Keberkahan sendiri artinya adalah tetapnya kebaikan Tuhan pada sesuatu. Berkah juga berarti tumbuh dan bertambah, sehingga keberkahan dimaknai sebagai bertambahnya kebaikan.

Sebagai muslim kita dianjurkan untuk tabarruk atau mencari keberkahan. Salah satunya dengan peninggalan Nabi Saw dan orang-orang saleh.

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ، فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ، وَيُحَنِّكُهُمْ

Diriwayatkan dari istri beliau Aisyah ra, bahwasannya Rasulullah Saw biasa disodori bayi, maka langsung beliau berkahi (beliau usap kepalanya kemudian beliau doakan agar dilimpahi berkah), serta beliau tahnik (beliau suapi dengan buah kurma yang sebelumnya sudah beliau kunyah) (HR. Muslim).

Dalam Syarah Shahih Muslim, disebutkan bahwa hadis di atas bukan hanya menjadi dalil anjuran tahnik bagi bayi, tapi juga tabarruk dengan orang-orang yang memiliki kesalehan dan keutamaan.

أما أحكام الباب ففيه استحباب تحنيك المولود . وفيه : التبرك بأهل الصلاح والفضل . وفيه استحباب حمل الأطفال إلى أهل الفضل للتبرك بهم ، وسواء في هذا الاستحباب المولود في حال ولادته وبعدها

Adapun hukum-hukum yang bisa disimpulkan dalam bab ini, adalah anjuran men-tahnik bayi, anjuran tabarruk dengan (benda-benda) orang-orang yang memiliki kesalehan dan keutamaan, anjuran membawa bayi kepada orang-orang saleh untuk mengharapkan berkah (tabarruk) mereka, baik ketika bayi baru lahir maupun setelahnya. Baca juga…

Kisah Tabarruk dengan Makanan Sisa Pangersa Abah Anom

Salah satu contohnya ialah dikisahkan oleh Ibu Endang Kusumaningsih istri dari KH. Nur Muhammad Suharto (Wakil Talqin Abah Anom) yang tengah mengikuti Lomba Foto “Aku dan Ponpes Suryalaya” dari Ibu Bella Bogor.

Juli 1996, adalah masa dimana pertama kalinya saya berjumpa dengan Guru Mursyid Kamil Mukammil, Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin qs.

Bersama suami dan 3 orang putri yang masih kecil-kecil, kami berangkat dari Sanggau, Kalimantan Barat. Dengan menggunakan kapal laut selama 4 hari perjalanan hingga tiba di Kajembaran Rahmaniyah.

Setibanya di Suryalaya, rasa bahagia tentu tak terkira, karena berkesempataan ditalqin langsung oleh Pangersa Abah Anom bersama ikhwan dari Malaysia, dan seorang ikhwan Sangggau, Aki Zainal Abidin.

Kebahagiaan yang mengejutkan juga saya rasakan, karena hari keempat berada di Suryalaya, saya baru menyadari bahwa saya tengah mengandung anak ke-4.

Seperti kehamilan sebelumnya, kehamilan kali ini juga membuat saya mabuk dan tidak dapat memakan makanan apapun. Namun, di saat inilah saya sungguh yakin bahwa Abah adalah salah satu dari wali-wali-Nya. Baca juga…

Bibi khadimah madrasah membawakan saya makanan sisa Pangersa dengan menyampaikan pesan bahwa ia diminta Abah untuk mengantarkan makanan ini kepada saya yang saat itu diminta menginap di Baitul Mal. Seketika tidak mual, badan jadi segar dan kuat, dan tidak teler lagi.

Untuk mengenang pengalaman tersebut, maka kami namai anak kami dengan nama Asfiyah Anom Bhazatul Asror, tidak lain untuk ngalap barakah kepada Abah.

Tidak sekedar nama saja, ternyata anak ini sungguh-sungguh menjadi anak termuda dan terakhir bagi saya dan suami. Semoga Almarhum Pangersa Abah dan suamiku senantiasa berada dalam Rahman dan Rahim-Nya. Amin.

#abahanom #tabarruk #santri

Rekomendasi
Komentar
Loading...