Kita Tidak Sendiri Dalam Perjalanan Ini

Seberkas cahaya terang
Menyinari hidupku
Sesejuk embun-embun di pagi hari
Dambaan insan di dunia ini

Lirik lagu di atas sangat populer pada era tahun 90an. Dinyanyikan oleh Nike Ardila dengan judul Seberkas Cahaya. Mereka yang kini berusia setidaknya 40an tahun mungkin masih mengingatnya.

Bait lagu di atas menggambarkan suasana batin saya ketika mulai mengenal dunia thariqah, khususnya saat menerima talqin dzikir Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pontren Suryalaya.

Saya mengenal TQN Pontren Suryalaya melalui guru ngaji ayah. Ketika itu sang ustadz silaturrahim ke rumah mengajak ayah untuk ber-TQN.  Ia menceritakan pengalaman ber-TQN dan menjelaskan pentingnya dzikrullah.

Ayah saat itu berusia 74 tahun, memiliki penyakit kambuhan yang muncul saat kelelahan merasa tidak kuat untuk pergi ke Pontren Suryalaya.  Muncul keinginan dalam diri saya untuk menggantikan ayah pergi ke Suryalaya untuk talqin dzikir dan silaturrahin ke Pangersa Abah Anom.

Guru ngaji ayah memberikan buku kecil berwarna hijau bertuliskan Uquudul Jumaan. Silakan dilihat-lihat dulu kitab ini,” terang ustadz kepada saya.

Buku kecil berisi rangkaian bacaan dzikir saya praktekkan. Selepas maghrib saya berdzikir sesuai dengan jumlah bilangan di dalamnya, hanya jeda untuk istirahat untuk makan dan shalat saja. Pagi hari jelang shubuh baru selesai.

Saya sampaikan kepada ustadz jika sudah selesai mempraktekkannya hingga tuntas. Ia mengatakan untuk mengamalkan perlu mendapat pembelajaran dzikir (talqin dzikir) terlebih dahulu.

Terjadi diskusi singkat tentang talqin dzikir. Talqin dzikir hanya bisa disampaikan oleh mursyid atau wakil talqin. Saya semakin penasaran dan ingin segera berjumpa wakil talqin.

Talqin Dzikir

Pertama kali menerima talqin dzikir saat kegiatan manaqib di Masjid Al Mubarok Rawamangun oleh Kyai Sholeh.

Bulan depannya saya kembali hadir manaqib dan kembali ikut talqin dzikir yang disampaikan Kiai Wahfiudin Sakam. Saya yang orang awam merasa bimbingan dzikir masuk ke dalam qalbu. Air mata membasahi pipi, muncul rasa syukur dipertemukan dengan orang-orang yang mengamalkan dzikir.

Benar, setelah menerima talqin, mengamalkan dzikir jadi lebih nikmat dan muncul ketenangan. ‘Ala bi dzikrillah tathmainnul qulub” .

Ziyarah ke Pontren Suryalaya

Saya disarankan untuk ziyarah ke Pontren Suryalaya. Panduan menuju pusat TQN saya terima dari ustadz ayah melalui pesan singkat di telepon genggam. “Aktifkan terus dzikir khafiy dan shalawat Bani Hasyim selama perjalanan,” pesannya kepada saya sebelum berangkat.

Saya orang baru, belum pernah ke Pontren Suryalaya, belum ada kenalan. Sempat muncul bagaimana nanti di perjalanan, bagaimana saat tiba di sana. Bismillah tekad sudah bulat untuk mengunjungi Auliya Allah.

Dari Terminal Lebak Bulus saya naik bus yang menuju Tasikmalaya. Tiba di Pamoyanan sekitar pukul dua dinihari. Saya meneruskan perjalanan menggunakan ojeg ditemani gelap, dan terselimuti udara dingin.

Akhirnya tiba di tujuan. Banyak orang sudah berkumpul di lingkungan pondok. Mulai dari emperan masjid hingga rumah-rumah di sekitar. Ada yang lalu lalang, menikmati cemilan di warung. Banyak juga yang sedang iktikaf shalat malam dan berdzikir tanpa henti, sambut menyambut. Jantung berdegup, perasaan haru, bahagia menjadi satu.

Saya berhenti di warung berdinding bambu, belakang masjid. Alhamdulillah, pemiliknya ternyata masih keluarga Pangersa Abah. Saya diizinkan untuk singgah di rumahnya bergabung dengan jamaah lainnya. Bersyukur tidak beristirahat di emperan hingga menjelang subuh. Kita tidak sendiri dalam perjalanan ini.

Jelang shubuh lantunan shalawat berkumandang terdengar dari arah masjid. Terlihat kesibukan dan hiruk pikuknya orang-orang yang akan mempersiapkan diri melaksanakan ibadah shalat subuh berjamaah. Saya pun turut bergegas bersiap menuju masjid.

Sejenak saya berdiri di bawah menara masjid sambil mencari celah untuk menggelar sajadah karena sudah penuh sesak dengan jamaah. Perlahan saya berjalan menerobos shaf demi shaf hingga ke lantai 2 masjid dan berhenti di pintu masuk. Alhamdulillah mendapat shaf di bagian depan yang tampak sedikit lengang.

Pengalaman pertama shalat di Masjid Nurul Asror sungguh berkesan. Seusai shalat shubuh langsung dilanjutkan dengan dzikir berjamaah. Sungguh indah, lantunan kalimat tauhid menggema menembus qalbu. Saya merasakan keindahan dan kenikmatan berbeda dengan dzikir yang selama ini saya lakukan sebelum mengenal TQN Pontren Suryalaya.

Tak terasa air mata mengalir membasahi mukena yang saya kenakan, entah terbawa suasana khusyuk atau memang ada sesuatu yang belum saya pahami.

Ketika pagi menjelang, saya bertemu dengan ustadz yang memperkenalkan saya pada TQN.

“Mengapa dzikir tersebut terasa begitu berbeda? bisa dikatakan terasa sangat begitu nyaman di qalbu,” tanya saya.

“Karena guru mursyid telah menanamkan “nur” cahaya ke dalam qalbu kita melalui talqin dzikir,” jelasnya.

Sedikit demi sedikit serta berangsur angsur saya mulai merasakan nikmatnya berdzikir. Terutama setelah mulai menyadari ada cahaya yang telah ditanamkan Wali Mursyid, Syekh K.H Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin. Cahaya yang menerangi jalan hidup melalui jalan TQN Pontren Suryalaya.

Tarekat atau thariqah artinya jalan. Yakni jalan bagaimana menjadi orang yang bertaqwa dan diridhai Allah Swt melalui kumpulan amalan-amalan, baik secara lahir dan batin melalui bimbingan mursyid sehingga menjadi orang yang bertakwa.

Bertarekat ibarat menuju ke suatu tempat melalui tol, jalur khusus. Tidak melalui jalur berliku yang macet. Jalan terbaik untuk kenal dan sampai kepada Allah Swt. Ma’rifatullah. Semua berkat guru  mursyid yang memiliki mata rantai sampai kepada Rasulullah Saw.

Mengikuti Pendidikan Tasawuf

Melalui TQN Pondok Pesantren Suryalaya saya mengenal sosok wali mursyid yang kamil mukammil (sempurna dan menyempurnakan). Ajarannya menuntun kita menjadi insan yang beriman dan bertaqwa. Saya banyak belajar dari hikmah-hikmah manaqib yang disampaikan oleh para wakil talqin, atau pun para ustadz dan ustadzah dari kalangan ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya.

Sepanjang ingatan, sejak tahun 2013-2016 mengikuti manaqib ke manaqib berikutnya, saya masih merasa ada sesuatu yang kurang lengkap. Masih ada keinginan mempelajari dan memahami tarekat secara ilmiah.

Saya ikut program pendidikan tasawuf di TQN Center Jakarta. Mulai dari Kursus Tasawuf (KT) hingga Kursus Pendalaman Tasawuf (KUPAT).

Melalui pendidikan ini saya lebih memahami TQN. Pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak pikiran terjawab. Penjelasan yang disampaikan para pemateri menambah semangat bertarekat. Saya lebih merasakan pentingnya ber-thariqah.

Beberapa bulan kemudian saya mengikuti Kursus Pendalaman Tasawuf. Kursus ini tidak hanya menambah pemahaman melainkan juga melatih amalan-amalan yang diajarkan Pangersa Abah Anom dalam kehidupan kita sehari-hari.

Alhamdulillah dari sekedar tahu, saya mulai mengerti dan memahami berbagai istilah yang sering saya dengar seperti manaqib, rabithah, suluk.

Mempelajari tarekat akan lebih afdhal jika mengikuti kursus tasawuf berikut pendalamannya sebagai basic atau dasar kita mengikuti TQN. Rasanya belum lengkap jika belum mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh LDTQN PPS Suryalaya yang biasa dilaksanakan setiap usai kegiatan manaqib yang disebut dengan upgrading.

Upgrading dimaksudkan untuk mengamalkan, mengamankan dan melestarikan ajaran dari Pangersa Abah Anom. Ternyata kita tidak sendiri dalam beribadah.

Dengan ber-TQN kita berjamaah menuju Allah Swt dari waktu ke waktu, hari demi hari, bulan demi bulan melalui amalan yang telah diberikan guru mursyid.

Saya melibatkan diri ke berbagai grup media sosial yang berafilisasi ke TQN Pontren Suryalaya seperti TQN Suryalaya Tangerang, Alumni KT, Alumni KUPAT, Up Grading Angkatan 29, Pemangku Manaqib, IBJ (Ibu Bella Jakarta). Alhamdulillah, informasi dan berita ke-TQN-an selalu updated di grup.

Semua menjadi indah dengan bertarekat. “Seberkas Cahaya” telah bersemayam di qalbu dalam kalimat Laa Ilaha Ilallah yang ditanamkan guru mursyid.

Ilaahii anta maqsudi waridhaka mathlubi, a’thini mahabbataka wa ma’rifataka”,  Ya Allah, engkaulah yang aku tuju dan ridha Mu yang aku harapkan, berilah daku kecintaan dan makrifat kepadamu, Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Ditulis oleh: Ustadzah Laili Hadiati, Ibu BELLA Jakarta, Guru SMAN 47 Jakarta

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...