Kurban dan Kemerdekaan

Saat ini umat Islam di seluruh dunia sudah mulai memasuki Bulan Dzulhijjah 1441 H. Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu dari 4 bulan haram dalam Islam selain Muharram, Rajab dan Dzulqa’dah.

Pada tanggal 10 Dzulhijjah umat Islam akan merayakan Hari Raya Idhul Adha atau sering disebut Hari Raya Kurban. Pada hari itu umat muslim menyembelih hewan kurban seperti sapi, kambing, domba, dan kerbau sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kepada Allah SWT.

Secara syariat, kurban adalah penyembelihan hewan ternak untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Bagaimana pemaknaan kurban dalam padangan hakikat?

Allah SWT dalam QS Al Hajj ayat 37 berfirman, “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”

Dalam ayat tersebut Allah menegaskan sesungguhnya manusia itu adalah makhluk spiritual. Dia menilai manusia atas apa yang ada di dalam jiwanya, di dalam spirit atau ruhnya.

Allah tidak melihat berapa banyak atau jenis hewan kurban yang disembelih, melainkan seberapa ikhlas dan tulus pengorbanan yang diberikan. Itulah muatan nilai yang dilihat oleh Allah sebenarnya.

Pengorbanan secara ruhani mempunyai makna menyembelih nafs atau diri kebinatangan. Nafs yang sering mengajak kita ingkar dan melenceng dari tuntunan-Nya.

Setelah menyembelih diri kebinatangan, selanjutnya kita diterima sebagai tamu Allah SWT yang disimbolkan dengan ibadah haji ke Baitullah di Mekkah Al Mukaramah. Hari Raya Kurban selalu beriringan dengan ibadah haji yang dilaksanakan umat Islam setiap satu tahun sekali bagi yang mampu.

Kutipan dari Ibnu Rajab, ”Siapa yang tak dapat menyembelih kurbannya di Mina, hendaklah ia menyembelih hawa nafsunya agar tercapai cita-citanya.”

Menyembelih hewan kurban adalah ritual namun menyembelih hawa nafsu kebinatangan yang ada dalam diri adalah kewajiban. Keduanya dijalankan beriringan, secara syariat dan hakikat.

Mereka yang berhasil menyembelih hawa nafsunya menjadi hamba yang merdeka dari segala belenggu karakter kebinatangan. Merdeka dari memperturutkan hawa nafsu, termasuk merdeka dari dirinya sendiri. Diri yang banyak keinginan ini dan itu.

Berkurban adalah upaya mengorbankan diri kita, harta kita, keluarga kita untuk Allah semata. Berkurban membuat kita merdeka dari kebutuhan terhadap makhluk, hanya bergantung kepada-Nya.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...