Kyai Wahfiudin: Datangnya Islam Menggerakkan Sebuah Peradaban Baru

Kyai Wahfiudin: Datangnya Islam Menggerakkan Sebuah Peradaban Baru

Jakarta РJumat depan (15/6) Insya Allah kita sudah masuk 1 Syawal, karena pada hari Kamis nya menjelang pukul 4 sore antara matahari, bulan dan bumi berada dalam posisi sebidang lurus. Saat matahari terbenam di ufuk barat (maghrib) posisi qamar 5 derajat di atas ufuk, akibatknya matahari sudah tidak terlihat oleh kita di muka bumi, namun sorot matahari yang mengena bagian bawah bulan (qamar) terpantul dan terlihat oleh kita. Kita melihat bentuk seperti sabit, itulah yang disebut hilal. Terjadilah rukyatul hilal, maka mulai maghrib itu masuk 1 Syawal.

Tidak terasa Ramadhan akan segera berakhir. Dan memang begitulah perjalanan waktu terhadap kejiwaan manusia. Apa-apa yang sudah berlalu terasa cepat namun penantian terhadap masa datang terasa begitu lama. Kita pun sering kali merasa masih lama akan mati.

Namun saat masa kematian itu tiba, akan merasa begitu cepat. Dalam Qur’an surat al-Munafiqun ayat 10 digambarkan banyak orang-orang menyesal. Setelah mengalami kematian mereka berkata”…Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Tetapi sudah terlambat karena kematian tidak bisa dimajukan maupun diundur.

Ibadah dalam Islam seperti penentuan waktu shalat dan puasa, kita disuruh mengamati fenomena alam. Maka jangan heran sejak zaman Nabi Muhammad sudah ada orang-orang yang mengamati matahari, bulan dan bintang.

Mereka mencatat posisi benda-benda langit dan menghitungnya. Setelah sekian puluhan tahun data-data hasil pengukuran dan penghiutungan, ditemukanlah pola-polanya. Dan ketika pola itu semakin dilengkapi dengan data lainnya maka berkembanglah ilmu astronomi.

Jadi karena tuntutan ibadah maka manusia mengamati alam. Dengan pengamatan itu berkembangkalh science ilmu falak. Dalam peradaban Islam ilmu yang pertama berkembang adalah ilmu astronomi/falak.

Manusia pada dasarnya senang untuk memperhatikan diri sendiri. Dijelaskan dalam Surat Az-Zariyat ayat 21,¬† “dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Maka Islam mendorong manusia untuk melakukan observasi pada dirinya. Maka science yang nomor dua berkembang adalah bidang kesehatan.

Datangnya Islam bukan sekedar mendorong orang dalam ritual-ritual ubudiyah, bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan. Tetapi datangnya Islam menggerakkan sebuah peradaban baru. Orang jadi terangsang untuk berfikir, mencari dan meneliti maka berkembanglah science dan teknologi. Ini keutamaan Islam.

Masih banyak orang-orang di dunia barat sering keliru memahami Islam. Mereka memahami agama semata-mata proses ritual, hubungan manusia dengan Tuhan. Bagaimana sembahyang dan melakukan puji pujian kepada Tuhan. Mereka lupa bahwa Islam selain mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya juga sosial, budaya dan peradaban.

Itulah Islam agama yang sangat lengkap. Islam bukan semata-mata tata cara ibadah. Islam adalah The Way of Life. Dan itulah yang semakin membuat kagum orang-orang di dunia Barat yang ingin lebih mengenal Islam. Alhamdulillah semakin banyak pula yang memeluk Islam di sana.

Jika di luar sana semakin banyak orang yang mendalami Islam, bagaimana dengan kita yang sejak lahir sudah Islam?

Ramadhan akan segera berakhir, di bulan ini siang dan malamnya sangat istimewa, saat demi saatnya. Cermati ibadah Ramadhan kita. Bagaimana shalat, puasa, baca quran dan silaturrahim kita? Masih ada kesempatan di akhir Ramadhan ini agar berakhir tanpa kesia-siaan dan kita menjadi orang yang bertakwa.

(disarikan dari khutbah Jumat (8/6) di TQN Center, Masjid al-Mubarak, Rawamangun, Jakarta Timur)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.