LDTQN Jakarta Gelar Manaqib, Kiai Wahfi: Jangan Sia-siakan Waktu

Dengan protokol kesehatan, LDTQN DKI Jakarta kembali menggelar Manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jailani di Masjid Al Mubarak, Rawamangun, Jakarta pada Ahad (10/10).

Namun yang spesial ialah acara manaqib ini dirangkai dengan Maulid Nabi Muhammad Saw. Yakni dengan membacakan Maulid Barzanji yang disusun oleh Sayyid Zainal Abidin Ja’far bin Hasan Al Barzanji.

Rangkaian acara manaqib terdiri dari pembacaan ayat suci Al Qur’an oleh ustadz Endang, Tanbih dalam bahasa Sunda oleh bapak Kolonel Laut Dr. Edys Riyanto, tawassul dipimpin oleh ustadz Rudi Effendi, serta manqabah disampaikan oleh ustadz Danu Hangga. Adapun khidmah ilmiah oleh KH. Wahfiudin Sakam.

Kiai Wahfiudin mengawalinya dengan menyatakan bahwa dzikir yang paling utama adalah dzikir yang selama ini dilazimkan oleh ikhwan akhwat TQN Pontren Suryalaya, yakni laa ilaaha Illaa Allah.

Bahwa segala-galanya bersumber dari Allah, keberadaan manusia termasuk kesadaran dan kemauan serta perasaan juga berasal dari-Nya. Sebab Allah wajibul wujud (yang pasti ada), berbeda dengan makhluk-Nya yang mumkinul wujud (keberadaannya relatif karena diadakan-Nya), la wujuda Illa Allah (tiada yang wujud kecuali Allah).

Dengan bimbingan para Mursyid, kata Wakil Talqin Pangersa Abah Anom tersebut, kita hanya menuju hanya kepada Allah. Keinginan tertingginya ialah Allah.

Setiap manusia mesti menyadari bahwa keberadaannya di muka bumi ini mengemban tugas. Yang dalam bahasa Al Qur’an disebut dengan khalifah atau tugas kepemimpinan (Leader).

“Tugas kita di muka bumi antara lain, berfungsi sebagai khalifah. Fungsi pemimpin leader. Maka jangan sibuk dengan yang bukan menjadi tugas kita, melakukan hal yang tidak bermanfaat yang membuat Allah tidak ridha,” ujar Kiai Wahfi.

Sebab salah satu ciri orang yang beriman ialah mengingatkan hal yang sia-sia.

وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ

dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, (Al-Mu’minun: 3)

Salah satu bentuk kesia-siaan yang paling nyata di tengah kaum muslimin adalah mengabaikan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Misalnya lebih banyak bermedsos ketimbang belajar.

Jika kemudian datang kesulitan hidup, renungkanlah masing-masing, perbuatan sia-sia apa yang dilakukan.

Kiai Wahfiudin Sakam.

“Hentikan segera kesia-siaan itu, beralih pada yang positif dan produktif. Kembali dulu kepada Allah kalau melakukan perbuatan sia-sia. Bertaubat dulu,” imbuh Wakil Ketua MUI Pusat Komisi Pendidikan dan Kaderisasi tersebut.

#ldtqn #manaqib #maulid

Rekomendasi
Komentar
Loading...