Makhluk Ekonomi atau Makhluk Sosial?

Ekonom Adam Smith mengatakan jika manusia adalah Homo Economicus atau makhluk ekonomi, yaitu makhluk individual yang harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Menurut pria kelahiran Skotlandia, sebagai makhluk ekonomi, tidak ada satu pun yang memiliki ketulusan dalam setiap perbuatannya. Ada kepentingan yang mendasari seseorang melakukan sesuatu meskipun perbuatan baik. Tujuan hidup seseorang tidak lepas dari apa yang disebut “to pursue of happiness” (mengejar kebahagiaan) walaupun untuk itu manusia harus berebutan dengan orang lain atau Homo Homini Lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya)

Pendapat ini tidak semuanya benar dan tidak semuanya salah. Manusia adalah makhluk yang kompleks. Dalam Al Qur’an ada ada beberapa sebutan yang diberikan kepada manusia. Pertama, adalah Al-Basyar, manusia sebagai makhluk biologis yang membutuhkan makan, minum dan seks.

Definisi pertama ini menunjukkan jika manusia memerlukan transaksi dalam kehidupannya guna memenuhi kebutuhan biologisnya. Hal ini sesuai dengan definisi yang telah disebut oleh Adam Smith di atas yaitu manusia sebagai Homo Economicus atau makhluk ekonomi.

Kedua, manusia sebagai al-insan tidak bisa lepas dari ketergantungan dengan manusia lainnya. Manusia dalam hal ini disebut juga sebagai Homo Socius, yaitu makhluk sosial sekaligus makhluk bermoral yang mempertimbangkan baik dan buruknya sebuah perbuatan.

Definisi ini sekaligus menepis definisi yang dibuat Adam Smith bahwa seolah-olah manusia hanya sebagai makhluk egois yang mementingkan dirinya sendiri. Definisi ini membantah pandangan para ekonom Neoklasik yang mengatakan akal budi dipergunakan hanya untuk mencari keuntungan pribadi dan bukan kemaslahatan bersama.

Definisi ketiga Allah menyebut manusia sebagai an-nafs, manusia ruhani yang ditujukan pada unsur ruh. Imam Al-Ghazali mendefinisikan nafs sebagai pusat potensi marah dan syahwat pada manusia.

Dari ketiga definisi di atas, manusia sebagai al-basyar, al-insan, dan an-nafs, menunjukkan bahwa manusia sebagai satu kesatuan yang kompleks lagi sempurna. Bukan lagi sebatas makhluk dzahir yang hanya mengenal untung dan rugi, namun makhluk yang memiliki ruh dan mampu mempertimbangkan nilai baik atau buruknya sebuah perbuatan.

Ditambah jika manusia memiliki pembimbing ruhani, akan membuat hidupnya lebih dekat dengan Allah SWT melalui perbuatan-perbuatan sosial yang memberikan manfaat kepada sesama.

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...