Manaqib di Suryalaya, Ajengan Sandisi Bahas Manqabah ke-15 Syekh Abdul Qadir

Tasikmalaya – Kemarin Sabtu (16/2) Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya mengadakan Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani (qs). Amaliah bulanan yang diselenggarakan setiap tanggal 11 bulan hijriah ini selalu dipenuhi jamaah dari berbagai daerah baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Sedianya KH. Beben Muhammad Dabbas menyampaikan khidmat ilmiah. Dikarenakan kurang sehat digantikan oleh KH. Sandisi. “Alhamdulillah kita masih bisa bersilaturrahim berkumpul, berjamaah untuk manaqib bersama keluarga besar Pondok Pesantren Suryalaya,” ujar Ajengan Sandisi.

Di dalam manqabah yang ke-15 ada seorang perempuan mengadu kepada Syekh Abdul Qadir. Ia menangis anak satu-satunya hilang tenggelam ke dasar lautan. Perempuan itu mempunyai keyakinan bahwa syekh bisa mengembalikan dan menghidupkan anaknya kembali.

Wakil talqin TQN Pontren Suryalaya. (foto: Zakri)

“Manaqib merupakan siloka-siloka atau simbol-simbol. Perhatikan Syekh Luqman memberikan nasehat kepada para putranya.” ujar Ajengan Sandisi.

“Wahai anakku, sesungguhnya kehidupan dunia ini bagaikan lautan yang begitu dalam. Sungguh telah banyak manusia yang tenggelam di dalamnya. Jika kalian ingin selamat, jadikan kehidupanmu di dunia ini bagaikan kapal dengan taqwa kepada Allah SWT. Muatan-muatan kapal itu adalah iman dan layarnya adalah bertawakal kepada-Nya,” jelasnya.

Berdasarkan wasiat Syekh Luqman kepada para putranya maka yang harus kita miliki adalah taqwa kepada Allah swt.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS Al-Hasyr, Ayat 18]

Masjid Nurul Asror Pesantren Suryalaya

“Perhatikan kehidupanmu di dunia ini.  Asal dari mana, sedang di mana, akan ke mana dan apa yang akan dibawa. Pertanyaan ini harus dijawab oleh diri kita masing-masing,” sambungnya.

Dunia menurut Syekh Luqman dinyatakan sebagai lautan yang begitu dalam dan banyak manusia yang tenggelam di dalam lautan itu.

‘Artinya jangan sampai kita tenggelam di dalam lautan, selalu mencintai urusan dunia sampai lupa dengan urusan akhirat.”

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” [QS. Al Munafiqun, Ayat 9].

Kembali ke manqabah yang dibahas. Perempuan yang menghadap ke Tuan Syekh memohon agar syekh membangkitkan kembali ruh anaknya yang telah benar-benar tenggelam dengan urusan dunia dan keluarga dari mengingat Allah sehingga dirinya lupa dari mengingat Allah.

Suasana manaqib di Suryalaya. (foto: IG Ibu Bella Pusat)

Proses menghidupkan ruh inilah yang disebut talqin dzikir.

Dalam proses talqin yang pertama, baru dikumpulkan alam jasad yang berserakan.  Begitu datang ke rumah belum menemukan anaknya, perempuan itu tidak putus asa. Datang lagi ke Tuan Syekh untuk talqin yang kedua.

Proses talqin yang kedua, ruhnya baru dihidupkan kembali. Masih belum menjumpai anaknya, perempuan itu kembali mendatangi syekh. Baru setelah talqin yang ketiga getaran qalbunya hidup dipakai dzikir kepada Allah SWT.

“Jadi proses talqin boleh berulang, yang penting sampai terasa hidupnya qalbu dipakai dzikir kepada Allah.”

Kesimpulan, kehidupan di dunia ini kapalnya harus kokoh. Isi kapal dengan dzikrullah (muatan iman). dan benar-benar berserah diri kepada Allah setelah berusaha (layar kapal). (Idn)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...