Mangertosi Awakipun Piyambak

Manusia menginginkan kebahagiaan. Ada yang mendefinisikan kebahagiaan saat terpenuhinya segala macam keinginan baik yang primer, sekunder bahkan tersier. Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan mengasingkan diri ke sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian manusia.

Sebenarnya kebahagiaan tidak tergantung pada waktu, tempat atau keadaan. Dalam kondisi apapun, di mana pun, dan kapan pun, baik menyenangkan ataupun tidak, kita bisa memilih untuk bahagia. Ini yang disebut sebagai kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang tanpa syarat.

Apakah kita bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang disebut tadi?

Dalam falsafah Jawa ada istilah Kawruh Jiwo, dimaknai sebagai Mangertosi Awakipun Piyambak, atau Memahami Dirinya Sendiri.

Bagi orang Jawa, memahami diri sendiri adalah awal dari terciptanya kebahagiaan sejati. Ia mengetahui arti hidup sesungguhnya. Dengan begitu mudah memahami orang lain dan lingkungannya. Akhirnya ia lebih mudah memahami dan mengenal Allah SWT.

Berawal dari mengenal diri selanjutnya mengenal Allah SWT

Hadits Rasulullah SAW, “Man ‘Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu,” yang artinya “Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Rabb (Tuhan) nya”.

Menurut Imam Al-Ghazali, puncak daripada Ilmu Pengetahuan adalah Ilmu Mengenal Allah SWT (Ma’rifatullah). Ketika sudah mendapatkan ilmu mengenal Allah maka akan dekat dengan-Nya. Tidak lagi mengharapkan kenikmatan selain kenikmatan dekat dengan Allah SWT.

Dia adalah sumber kebahagiaan. Kedekatan kita dengan-Nya membawa kita dekat dengan sumber dari segala sumber kebahagiaan. Orang-orang yang sudah dekat dengan Allah, Dia akan penuhi mereka dengan segala kebahagiaan yang tidak didapatkan oleh mereka yang tidak memiliki kedekatan dengan-Nya. Inilah kuncinya.

Dalam Surat Al-Maidah Ayat 35 “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.”

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...