Manusia Sering Tertipu 2 Hal Ini

Seringkali kita sadar pentingnya menjaga kesehatan dan memanfaatkan tubuh yang sehat saat menderita sakit. Begitu pula saat tanggungjawab semakin besar yang memerlukan waktu banyak, kita baru sadar waktu yang telah terbuang tanpa kemanfaatan.

Hadits Nabi saw, “Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari).

Penulis buku-buku motivasi, Brian Tracy (1994) mengatakan “Your greatest resource is your time” (sumber daya terbesar kita adalah waktu yang kita miliki). Sementara ilmuwan Amerika, Ralp Waldo Emerson (1803-1882) menyampaikan, “The first wealth is health” (kekayaan pertama adalah kesehatan).

Ada yang mendefinisikan sehat (kesehatan) adalah keadaan sejahtera dari badan dan jiwa yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Menjaga kesehatan sama pentingnya dengan memanfaatkannya.

Rasulullah Saw selalu menjaga kesehatan dengan menjalani pola hidup sehat. Sejumlah riwayat menegaskan, nabi sangat jarang sakit sepanjang 63 tahun hidupnya. Bahkan ada yang mengatakan cuma dua kali sakit, dan itu pun sakit ringan. Padahal, selain kondisi jazirah Arab sangat keras, aktivitas dakwah yang sangat tinggi, baginda banyak mengalami teror dan kekerasan dari kaum yang menentangnya. Belum lagi peperangan yang diikuti.

Kesehatan, daya tahan fisik dan mental nabi yang luar biasa, tidak lepas dari pola hidupnya yang sehat dan alami. Aktivitas yang dilakukan mulai dari menjaga kebersihan diri dan lingkungan hingga menjaga qalbu dan memelihara sikap kedermawanan.

Pada masa pandemi Covid-19 pemerintah telah mengeluarkan protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran. Himbauan pemerintah penting untuk diikuti, namun jangan lupa pesan nabi dalam agar kita tidak menjadi orang yang tertipu.

Saat ini, kita yang sedang sehat dan memiliki banyak waktu, manfaatkan semaksimal mungkin untuk menghasilkan karya-karya untuk umat. Lakukan observasi, perubahan-perubahan apa saja yang terjadi pasca Covid-19. Buat inovasi baru untuk meningkatkan atau bahkan menyelamatkan institusi kita dari badai disrupsi ini.

Jangan akhirnya kita menyesal saat sudah tenggelam bersama badai.

(Oyib Sulaeman M.Si., Pengajar di Fakultas Tarbiyah IAILM Suryalaya)

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...