Marhaban Ya Ramadhan

Kata marhaban ini berasal dari kata rahb yang berarti luas. Kata ini digunakan untuk menyambut tamu yang menggambarkan bahwa ia disambut dengan hati yang luas dan lapang penuh kegembiraan. Dan dari kata rahb lahir kata yang berarti tempat perhentian musafir untuk memperbaiki kendaraan dan mengambil bekal perjalanan.

Ketika mengucapkan marhaban ya Ramadhan, artinya dengan sadar kita sambut Ramadhan ini dengan hati yang lapang dan gembira sekaligus kita persiapkan bekal dan perbaikan diri demi perjalanan pulang menuju asal kita semua yakni Allah Swt.

Persiapan menyambut tamu itu tergantung tamu yang datang. Maka dalam rangka mempersiapkan diri menyambut Ramadhan kita perlu mengenali Ramadhan. Karena kalau kita kenal Ramadhan pasti kita akan mempersiapkan sebaik-baiknya. Sebaliknya, kalau tidak kenal maka persiapan pun menjadi tidak penting.

Dalam mempersiapkan bekal pun demikian, kita mesti mengetahui apa yang diperlukan dalam perjalanan tersebut. Dalam konteks bulan Ramadhan, ibadah inti yang dilakukan ialah kewajiban puasa atau as shiyam pada siang hari dan dianjurkan dengan qiyam Ramadhan pada malam harinya sesuai kemampuan.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan ikhlas karena Allah diampuni dosanya yang sudah lalu (HR. Bukhari).

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan karena iman dan ikhlas karena Allah diampuni dosanya yang sudah lalu, (HR. Muslim).

Namun sebelumnya kita mesti sadar, bahwa kewajiban puasa bukan bertujuan untuk memberatkan manusia. Karena puasa hanya bagi yang memenuhi syarat itu pun tidak sepanjang hari dan sepanjang tahun.
Sehingga sudah sejak awal, puasa jangan dijadikan beban atau pun hambatan dalam melakukan aneka aktivitas yang positif dan produktif. Karena tujuan puasa adalah demi kepentingan manusia agar bertaqwa.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Al Baqarah: 183).

Jika melihat tradisi kaum salafus shalih, mereka sudah mempersiapkan bulan Ramadhan sejak bulan Rajab yang termasuk dalam Asyhurulhurum (empat bulan yang mulia). Di mana di bulan itu dosa dan perbuatan baik dilipatgandakan ganjarannya.

Begitu pula dengan bulan Sya’ban, ia menjadi bulan yang paling banyak Rasul melakukan puasa sunah di dalamnya. Salah satu sebabnya karena di bulan Syaban amalan seseorang akan diangkat kepada Allah Swt, dan Nabi menyukai dilaporkannya amal dalam keadaan berpuasa.

Nabi pernah ditanya, puasa apa yang paling utama setelah Ramadhan. Beliau menjawab, puasa Syaban untuk memuliakan Ramadhan. (HR. Tirmidzi).

Dengan berpuasa di bulan Syaban, artinya dia membiasakan diri dengan berpuasa sehingga tak merasa berat dan payah saat datang bulan Ramadhan. Sehingga ketika bulan Ramadhan datang, tidak ada perasaan tidak suka dan keluh kesah yang bisa membuatnya suul adab (buruknya adab) terhadap bulan Ramadhan.

Syekh Ahmad Hijazi rahimahullah menyatakan bahwa kaum salafus shalih menyambut bulan Syaban dengan membaca Al Qur’an. Bulan Syaban ini juga disebut sebagai Syahrul Qurra’ (bulannya para pembaca al Qur’an). Amr bin Qais tatkala masuk bulan Syaban dia tutup tokonya dan mengosongkan waktunya khusus untuk membaca Al Qur’an.

Syekh Sayyid Muhammad Al Maliki berkata dalam kitab Ma Dza Fi Sya’ban, “Siapa yang bersungguh-sungguh melatih diri di bulan Sya’ban, maka dia akan sukses ketika bulan Ramadhan, buah dari pembiasaannya.”

Sehingga wajar dari sini kemudian dikatakan, bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban bulan menyiram dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen.

Inti dari Puasa

Inti dari puasa adalah pengendalian diri. Pengendalian diri ini dibutuhkan setiap insan. Baik itu yang kuat atau lemah, kaya atau miskin, lelaki maupun perempuan, kaum metropolitan maupun primitif.

Kesuksesan dalam memimpin perusahaan, organisasi, masyarakat ataupun keluarga ditentukan oleh kemampuan mengendalikan dan memimpin diri sendiri (self leadership).

Dalam Islam kompetensi memimpin diri sendiri ini diletakkan sebagai jihad akbar. Ketika pulang dari salah satu perang yang paling dahsyat dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad Saw berkata kepada para sahabatnya. “Kita pulang dari perang yang lebih kecil menuju perang yang lebih besar.”

Para sahabat saling berpandangan dan bertanya-tanya. “Bukankah perang yang baru dilalui adalah perang yang besar?” Salah seorang sahabat kemudian bertanya, “apa perang yang lebih besar itu wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “perang melawan hawa nafsu.”

Menyangkut hawa nafsu, Imam Bushiri pengarang Qasidah Burdah menulis;

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞ حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap suka menyusu # Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri.

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ ۞ إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ

Maka palingkanlah hawa nafsu, takutlah jangan sampai ia menguasainya # Sesungguhnya hawa nafsu, jikalau berkuasa maka akan membunuhmu dan membuatmu tercela.

Dari sini kita menyadari bahwa di samping persiapan teknis seperti persiapan fisik, bekal material dan ilmu menyangkut ibadah Ramadhan, bekal terpenting itu ialah tekad dan kemauan. Serta memohon pertolongan Allah agar bisa mengendalikan diri lebih baik dari sebelumnya. Sehingga selepas Ramadhan, puasa yang disebut nabi sebagai perisai الصيام جنة bisa terwujud.

Perisai ialah lambang ketahanan, dengan persiapan yang baik, Ramadhan menjadi momen untuk memperkuat ketahanan keluarga, ketahanan sosial dan masyarakat, ketahanan energi dan pangan serta ketahanan nasional buah dari pengendalian diri setiap individu.

Rekomendasi
Komentar
Loading...