Maulid Telur?

Kenapa pada setiap maulid ada telur? Telur yang sudah direbus dan diwarnai dan diletakkan di ember plastik atau bakul kemudian ditutup daun pisang sebagiannya lagi ditancapkan di pohon pisang.

Itulah tradisi sekaligus adat masyarakat Sulawesi Selatan (al-adatu muhakkamah) yang pada hakikatnya mengandung makna khusus dan tentunya memiliki dalil baik dari Al-Qur’an maupun hadits Nabi, antara lain bahwa,

“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup (QS. Al Imran, 3:27)”, dapat dimisalkan dengan mengeluarkan anak ayam dari telur, dan telur dari ayam.

Dengan ayat tersebut dan dengan perumpamaan telur itulah, mengingatkan bahwa semua yang hidup di dunia ini ada awal dan akhir.

Dilihat dari bentuknya, telur terdiri atas tiga fase sebagai bagian dari kehidupan. Fase kulit yang dimaknai sebagai lahir, fase putih telur sebagai hidup dan fase terakhir yaitu kuning telur sebagai akhir kehidupan.

Mengenai manfaatnya, Imam Baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Iman (Juz I; hal. 87) menyebutkan sebuah riwayat yang diklaim sebagai hadits marfu’ (disandarkan kepada Nabi Muhammad saw), bahwa jika seseorang merasa lemas dan tidak bertenaga, maka diperintahkannya memakan telur.

Berdasarkan riwayat itu dipahami bahwa telur termasuk obat kuat, dan memang meupakan sumber protein terbaik, putih telur menghaluskan dan memutihkan kulit, sedangkan kuning telur sebagai salah satu sumber vitamin B-kompleks membantu perkembangan otak.

Demikianla telur yang dijadikan penganan saat maulid scara sufistik ditinjau dari segi hakikat adalah sebagai lambang kelahiran dan dengan bentuknya telur yang bulat bermakna dunia tempat dilahirkan manusia dan tempat kehidupan mereka.

Kulit telur disimbolkan Iman, putih telur disimbolkan Islam dan kuning telur disimbolkan Ihsan seperti halnya bahwa putih telur melambangkan kesucian dan keagungan, kuning telur melambangkan keemasan, warna lain seperti merah dan biru yang dihiasi pada kulit telur saat maulid sebagai lambang kegembiraan. Jadi telur yang ditusuk saat maulid melambangkan bahwa Iman, Islam & Ihsan harus disatukan dan ditegakkan ke atas berdasar kalimat Allah swt.

Sama halnya dengan tarekat, hakikat dan makrifat yang tidak terpisahkan bagai telur yang ditusuk bambu melambangkan adanya kelurusan, kekuatan dan keteguhan layaknya pohon bambu yang tumbuh menjulang tinggi.

Demikianlah maulid diharapkan memberikan makna kepada umat Islam untuk selalu teguh, lurus dan menjulang tinggi meneladani Nabi saw sebgai manusia mulia & luhur.

Meneladani Nabi saw karena adanya al-Mahabbah salah satu maqam sebagai tingkatan terminal tertinggi dalam dunia tasawuf. Bagi yang mencapai maqam ini sebagai indikator kecintaannya kepada Allah SWT, yakni cinta sejati, itulah cinta Tuhan kepada hamba-Nya dan hamba-Nya pun mencintai-Nya sebagai mana dalam QS. al-Baqarah (2: 165) dan QS. al-Maidah (5: 54).

Agar cinta tidak bertepuk sebelah tangan, maka seorang hamba dianjurkan pula untuk mencintai Nabi saw sebagai yang ditegaskan dalam QS. Ali lmran (3: 31).

Cinta seorang muslim kpada nabinya, haruslah tumbuh mekar dan bersemi dalam hati, sehingga harus selalu disirami agar hatinya bercahaya, yang dalam perspektif tasawuf itulah Nur Muhammad, refleksi cahaya kenabian menyinari seluruh alam, rahmatan lil alamin dan salah satu upaya yang sepatutnya dilakukan adalah melestarikan syiar Maulid Nabi SAW.

Wallah al Muwaffiq Ila Aqwam al Thariq

Oleh: Mahmud Suyuti

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...