Membangun Kultur Wirausaha Kaum Tarekat

Dulu, wirausaha dianggap memiliki masa depan yang tidak jelas. Orang berlomba-lomba menjadi karyawan, terutama menjadi pegawai negeri. Sebagian orang tua juga mendorong anaknya bisa bekerja di sebuah perusahaan besar, multinasional.

“Orang tua dulu banyak berharap mempunyai menantu seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Penghasilan jelas, karir membentang, ada pensiun dan masa depan cerah,” demikian paradigma masa lalu.

Setelah beberapa dekade terjadi perubahan besar. Ketika kian banyaknya kisah sukses dan dampak sosial dari keberhasilan seorang wirausaha, muncul motivasi di antara masyarakat untuk memulai usaha. Terlebih lagi di masa pandemi Covid-19 dengan dukungan kemajuan teknologi infokom yang membuat segala sesuatu bisa lebih mudah dan cepat.

Generasi muda mengambil peran dominan. Mereka rela meninggalkan zona nyaman dari karyawan di sebuah perusahaan besar menjadi seorang wirausaha. Wirausaha telah memiliki citra positif di masyarakat

Kultur Wirausaha Kaum Tarekat

Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya KH. Wahfiudin Sakam mengatakan tingkat populasi manusia sudah sedemikian tinggi, urbanisasi sangat masif (65% penduduk Indonesia tinggal di perkotaan yang padat), sementara teknologi produksi sudah mampu menawarkan apa saja barang yang dibutuhkan oleh manusia.

Sementara pada tahun 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

“Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. Agar Indonesia dapat memetik manfaat maksimal dari bonus demografi, ketersediaan sumber daya manusia usia produktif yang melimpah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari sisi pendidikan dan keterampilan,” seperti rilis yang dikeluarkan Bappenas pada 22 Mei 2020.

Bonus demografi harus bisa dimanfaatkan oleh anak negeri, tidak terkecuali kaum tarekat.

Menyikapi perkembangan yang terjadi di negeri ini, Kiai Wahfi mendorong para pengamal tarekat mulai membangun dan mengembangkan kultur wirausaha. Tentunya bisa dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Tidak mudah, namun inilah jihad kaum tarekat.

“Dunia memang berubah begitu cepat, ormas-ormas Islam, tak terkecuali berbagai komunitas tarekat banyak yang tergagap dengan perubahan-perubahan ini,” terang Kiai Wahfi.

“Setidaknya ada dua kemampuan yang dibutuhkan saat ini. Problem Solving dan Colaborative Actions,” sambungnya.

Dua kemampuan itu diyakininya dapat menjawab problematikan yang dihadapi umat saat ini. Pendidikan agama yang hanya terpaku pada pengajaran bersifat normatif tidaklah cukup. Segala macam norma agama, moral, adat dan hukum hanya terbatas pada apa yang seharusnya ada dan terjadi (what should be).

“Diperlukan yang lebih dari itu, yaitu keahlian mengadakan dan menjadikan. Itulah engineering atau keahlian rekayasa dan manajemen,” kata Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat.

Membangun kultur tidak bisa disandarkan hanya pada satu institusi. Semua pihak perlu terlibat, saling mendukung terbentuknya ekosistem wirausaha. Termasuk keluarga kaum tarekat.

Kultur dibangun sejak dini dengan mengenalkan dan membiasakan karakter-karakter wirausaha pada anak-anak kita. Contoh kecil adalah berani mengambil resiko, membangun relasi atas dasar saling percaya, berbagi dan kedermawanan.

Jika hal-hal itu digaungkan, dikenalkan dan diterapkan terus menerus dalam setiap keluarga dan forum-forum amaliah tarekat, akan membuat kaum tarekat menjadi bagian dari pemecah masalah keumatan atau problem solver. Akhirnya terbentuk masyarakat produktif yang kaya akan nilai, keyakinan, perilaku dan kemampuan yang menopang menjadi wirausaha.

Dengan amaliah dzikir Lā ilāha illā Allāh kaum tarekat selalu berupaya membersihkan dan menyerahkan diri secara total kepada Allah, menjadi orang yang merdeka, hanya bergantung kepada-Nya. Sudah seharusnya tidak ada lagi kekhawatiran, ketakutan untuk berjihad terlibat dalam membangun ekonomi bangsa.

Seperti pesan Pangersa Abah Sepuh dalam Tanbih, “Lebih baik buktikan kebajikan yang timbul dari kesucian.”

Anda mungkin juga berminat
Komentar
Loading...